Gus Dur Hidup Kembali

Wawancara: KH. Husni Hidayat

Siapa sih Gus Dur, menurut sampean?.

Gus Dur sebagai anak kandung tokoh besar Nahdlatu Ulama (NU), KH. Abdul
Wahid Hasyim. Dalam tulisan tinta sejarah, Kyai Wahid banyak sekali
memberikan ide-ide brilan, diantaranya menghapus tujuh kata dalam piagam
Jakarta bersama KH. Bagus Hadi Kusumo dari Muhammadiyah yang berisi
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya. Di sini jelas,
bahwasanya bapak Gus Dur sebagai mantan Menteri Agama di era 40-an, sudah
menggulirkan sumbangsih yang sangat bermanfaat bagi bangsa ini, karena
Indonesia adalah negara Islam secara substansial namun nasionalis secara
formal.

Dari keberanian KH. Wahid Hasyim, banyak pihak yang tidak menyukainya,
sehingga tak heran bila beliau meninggal oleh kecelakaan yang diduga akibat
ulah musuh-musuh politiknya untuk melenyapkannya. Dari silsilah kakeknya,
Hadhratussyekh KH. Hasim Asy’ari, seorang tokoh kharismatik sepanjang
sejarah Nahdlatul Ulama yang mampu mengumpulkan kiyai-kiyai untuk
menyelamatkan nasionalisme bangsa ini, tanpa meninggalkan tradisi dan
ideologi sebagai seorang muslim dan kiyai kharismatik. Tak heran bila Bung
Karno dan Bung Tomo sering meminta petunjuk dari beliau sebelum melangkah
mewarnai hitam putih bangsa Indonesia. Peristiwa 10 November yang dijadikan
sebagai hari pahlawan, sebenarnya berawal dari tradisi memperingati jasa
para pahlawan yang ada dalam NU setiap tahun, atau yang disebut dengan haul.

Apabila ditarik ke belakang, Gus Dur adalah cucu dari Syaikh Abdurrahman
Basyaiban alias Sultan Hadiwijaya yang menyelamatkan pertikaian kerajaan
Demak dari politisasi agama. Anda jangan heran, tatkala semasa hidupnya,
Gus Dur sering mengunjungi makam Sang Joko Tingkir ini, di Pringgoboyo,
Lamongan. Seorang datuk, yang merupakan seorang ulama sekaligus pahlawan
nasional.

Dari beberapa hal yang saya sebutkan di atas, Gus Dur memiliki darah
pendekar bangsa, yang diimbangi dengan nuansa keagamaan yang kental.
Seperti nama kecilnya, Abdurrahman Addakhil; seorang penakluk yang
mendobrak bangsa ini dari keterbelakangan. Jadi, bila dirunut dari darah
birunya dan kapabilitas intelektualnya, Gus Dur adalah tokoh segala-galanya.

Apa sumbangsih Gus Dur bagi bangsa ini?.

Ibarat sebuah bangunan, Indonesia memerlukan banyak pasak atau sokoguru.
Maka, saya memposisikan Gus Dur sebagai salah satu pasak negara ini.
Mengapa? Coba anda perhatikan, ormas Nahdlatul Ulama adalah sebuah
organisasi yang identik dengan tradisionalisme, kaum sarungan, dan
orang-orang ndeso. Tapi, setelah Gus Dur menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama,
eksistensi NU tidak hanya memberikan sisi progresif bagi bangsa Indonesia,
tapi diakui oleh dunia internasional. diantaranya, tokoh-tokoh barat banyak
yang tertarik untuk mengkaji Nahdlatul Ulama. Dengan kata lain, Nahdlatul
Ulama sekarang, tidak hanya dibatasi dengan literatur-literatur lokal,
tetapi juga turut mewarnai ensiklopedia internasional.

Di sisi lain, kaum non-muslim banyak yang menganggap Gus Dur adalah sang
penyelamat, karena Gus Dur tidak hanya seorang muslim yang berjuang untuk
orang-orang Islam saja, tapi juga memusnahkan ketertindasan yang dialami
orang-orang non muslim di Indonesia, seperti orang-orang Cina yang dilarang
untuk merayakan hari raya imlek dan orang-orang Kristen yang selalu
dianggap sebagai kaum yang layak untuk diperangi.

Al-Qur’an menyebutkan: “Walan tardla ‘ankal Yahudu walan-Nashara hatta
tattabi’a millatahum”, ayat tersebut diaktualisasikan dalam tafsir sang
Abdurrahman Wahid sebagai keyakinan terhadap identitas agama masing-masing.
Jadi, bukan orang Yahudi dan Nasrani yang membenci muslim, lantas harus
diperangi, tapi seorang muslim harus berani bersaing sehat dengan Yahudi
dan Nasrani untuk mengembangkan ajaran Islam. Kenapa kita harus takut
dengan Kristenisasi dan Yahudisasi, sementara kita sendiri berlomba-lomba
untuk melakukan Islamisasi. Islam adalah agama universal, keberadaannya
untuk mengayomi alam semesta, sebagaimana Rasulullah diutus bukan untuk
memerangi orang-orang kafir, tapi untuk menyelamatkan mereka dari penyakit
kekufuran.

Kaum minoritas tidak disingkirkan oleh Gus Dur, tapi diberikan hak hidup
dan dibebaskan untuk menentukan pilihannya. Saya jadi teringat Jendral
Thariq bin Ziyad tatkala menaklukkan Andalusia. Penaklukan-penaklukan
(futuhat) yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan Islam tempo dulu, untuk
menyelamatkan manusia dari ketertindasan, bukan agar mereka memeluk agama
Islam dan menjalankan syariatnya. Tak heran bila dikenal istilah kafir
dzimmi dalam literatur hukum Islam. Rasulullah bersabda: “Man adza
dzimmiyyan faqad adzani”. Artinya, siapa yang memusuhi non-muslim atau
kelompok minoritas yang dilindungi oleh bangsa dan negara, berarti memusuhi
Rasulullah.

Sebagai pendiri Nahdlatul Wathan (NW) cabang Mesir, apa ide-ide Gus Dur
yang anda harapkan dapat mencerahkan NW di Mesir dan di Indonesia?.

Berawal dari titik tolak NW di NTB yang eksklusif, saya ingin menjadikan NW
tetap pada khittahnya, namun bersifat inklusif. Sehingga saya dan
teman-teman mencoba menggagas kajian al-Abror yang kemudian menjadi PwKNW
(Perwakilan Khusus Nahdlatul Wathan). Sebab, sebagai negara yang bebas,
banyak mahasiswa Indonesia di Mesir yang kadang-kadang tertutup cara
berfikirnya dan picik pandangannya. Namun, tak sedikit dari mereka yang
kebablasan dan liberal. Nah, Gus Dur sebagai tokoh moderat yang pernah
belajar di Mesir sudah sepatutnya menjadi figur yang bisa menjadikan NW
dalam garis moderat (wasathiyah). Kenapa saya katakan moderat? Karena Gus
Dur selalu hadir sebagai penyeimbang, tatkala kebanyakan orang
berbondong-bondong menuju arah kanan, Gus Dur mengingatkan arah kiri, dan
sebaliknya. Jadi, bagi saya itu bukan sesuatu yang nyleneh, tapi merupakan
stabilisasi keadaaan agar tidak timpang dan carut-marut. Selama masih
berpegang kepada apa yang kita yakini, kenapa tidak?.

NW di Indonesia, terkadang mengalami krisis gaya berfikir yang modern,
dengan menafikan pihak lain. Padahal, TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid
sebagai pendiri NW menamakannya dengan kebangkitan bangsa (Nahdlatul
Wathan), bukan kebangkitan pribadi atau golongan. Cara berfikir yang
sempit, tentu akan mempengaruhi dalam prilaku keseharian dan interaksi
sosial. Apa yang saya alami tatkala memberikan taushiyah atau khutbah di
salah satu masjid tentang NW, dan realitanya pengurus masjid tersebut
adalah orang-orang NU, ternyata dianggap tabu. Sungguh cara berinteraksi
sosial yang perlu dirubah.

Soal suksesi kepemimpinan, sudah selayaknya NW berkembang secara
organisasi, sekaliber NU dan Muhammadiyah. Bila kepemimpinan NW disyaratkan
harus pewaris secara biologis, berarti sang pemimpin tersebut harus
memiliki kapabilitas, sebagaimana dicontohkan TGH. M. Zainul Majdi sebagai
pimpinan NW sekarang dan terpilih menjadi Gubernur NTB. Sebab, sebuah
organisasi yang sehat bukanlah kerajaan yang diwarisi oleh para pangeran,
namun the right man in the right place.

Sementara meneladani Gus Dur dari sisi ideologi, harus dipandang dengan
pikiran terbuka dan wawasan yang luas, sebagaimana beliau sering menyitir
kaidah fikih “Tasharruful imam alarra’iyah manutuhn bil mashlahah”.
Artinya, apa yang dilakukan oleh Gus Dur sebagai sang pendobrak, selalu
memberikan maslahat atau kebaikan bagi orang lain, walaupun sering tidak
difahami oleh kebanyakan orang. Dengan catatan, keterbukaan ideologis yang
revolusioner tetap pada khittah organisasi dan tidak menyimpang. Ironi,
ketika pengikut setia Nahdlatul Wathan malah menjadi aktifis PKS atau FPI,
bahkan HTI dan lain-lain. Karena, Nahdlatul Wathan sebagai penganut
nilai-nilai sufistik, sangat berbeda 180 drajat dengan kelompok-kelompok
yang saya sebutkan tadi.

Sebagai pahlawan nasional dan bapak pluralisme, nilai-nilai apa yang bisa
kita teladani dari beliau?.

Gus Dur adalah sosok nasionalis sejati, tidak hanya harta dan benda yang
beliau korbankan untuk bangsa dan negara ini, namun beliau sering lupa akan
kesehatan dan keselamatan diri sendiri. Pernah terjadi tatkala beliau
menjadi presiden, dokter kepresidenan kebingungan, karena beliau kencing
darah, tapi ternyata beliau menanggapi dengan enteng dan santainya: “Saya
yang kencing darah, kok kalian yang repot..!!”. Sebuah kepribadian yang
patut kita contoh karena sangat perduli terhadap kemaslahatan orang lain,
bangsa, dan negara, hingga tidak menghiraukan dirinya sendiri.

Gus Dur adalah seorang pengamal tarekat, kiyai Sonhaji dari Kebumen yang
menjadi mursyid tarekatnya, banyak memberikan pencerahan terhadap dimensi
spiritualnya, seperti memaknai hadits “Tabassumuka ‘ala wajhi akhikah
shadaqah”, tidak hanya diartikan secara tekstual, dengan kata lain, senyum
adalah sedekah. Akan tetapi, hakikatnya senyum adalah sebuah wujud
solidaritas kepedulian seseorang terhadap orang lain.

Manifestasi nasionalisme Gus Dur adalah cerminan seseorang yang selalu
menyempurnakan imannya, karena hubbul wathan minal iman. Di sisi lain, Gus
Dur sering dihujat karena keyakinannya untuk membela yang lemah dan
teraniaya, seperti membela Ahmadiyah yang secara undang-undang tidak bisa
dilarang dan diusir dari bumi Indonesia, walaupun secara ideologi, Gus Dur
bukanlah seorang Ahmadiyah. Tuduhan syiah, sesat, antek zionis, dan
sebagainya sering diterimanya dengan lapang dada. “Gitu aja kok repot”
balasan santainya yang masyhur di antara kita.

Privasi antara hamba dengan Tuhannya, bagi Gus Dur tidak dapat diganggu
gugat. Bahkan Gus Dur tidak segan-segan untuk melawan arus kelompok yang
seolah-olah melakukan perlawanan, padahal tidak. Mencabut TAP MPRS 1966,
tentang pelarangan komunis, misalnya. Gus Dur bukanlah seorang komunis,
tetapi beliau tidak ingin komunis difitnah oleh oknum-oknum yang terlibat
dalam sejarah dan terzalimi begitu saja.

Tatkala kebanyakan orang meributkan soal pembelaan Indonesia terhadap
Palestina, justru Gus Dur menginginkan untuk membuka hubungan diplomatik
dengan Israel. Cara pandang Gus Dur jauh ke depan, banyak yang tidak
mengerti jurus-jurus saktinya. Tidak ada musuh bagi Gus Dur. Seperti
kekejian FPI tidaklah merupakan sebuah perlawanan, justru sebenarnya hukum
rimba lah yang berlaku. Hanya moral binatang yang mudah memangsa yang lemah
dan tak berdaya. Bagi seorang Gus Dur, melawan sebuah kemungkaran harus
dengan strategi dan tehnik yang teratur dan mengena sasaran. Adagium arab
menyatakan “Man ‘arafa lughata qawmin amina min makrihim”; terjemahan
bebasnya, sebuah perlawanan terhadap sesuatu yang tidak bisa dilawan, bisa
dilakukan dengan hal-hal yang menurut kita tak terduga.

Menyikapi maraknya Islam kaffah atau gerakan formalisasi syariat, bagaimana
anda menyikapi pengaruh PKS, HTI, serta partai-partai Islam, sekarang dan
masa yang akan datang?.

Partai Islam adalah sebuah kendaraan politik. Mungkin kita akan sering
memperdebatkan tentang definisi politik itu sendiri. Tapi yang paling
penting, eksistensi sebuah partai adalah sarana, bukan tujuan. Walaupun,
realita dan fakta di lapangan berkata lain. Justru kendaraan politik yang
seharusnya menjadi wasilah (sarana) sering malah menjadi ghayah (tujuan).
Sehingga, tujuan mulia dari perjuangan politik menuju kemaslahatan umat
sering terabaikan. Ketika terjadi sebuah bencana misalnya, peran partai
politik justru memanfaatkan momen tersebut untuk mengapresiasi citra
partainya sendiri dan seringkali mengatasnamakan agama atau kemanusiaan.

Meminjam istilah Habib Luthfi bin Yahya, fanatik kita kepada partai tidak
lebih dari setinggi lutut kaki, sedangkan fanatik kita kepada bangsa dan
negara tidak melebihi pusar, sedangkan fanatik kepada agama dan keyakinan
merupakan titik tolak untuk memberikan maslahat bagi sinergi antara
hubungan vertikal (hablun minallah) dan horizontal (hablun minannas).

Pemaksaan terhadap kepentingan yang dibungkus dengan baju agama sungguh
menggiurkan, padahal secara substansial, nilai-nilai agama selalu dapat
dimanifestasikan. Menurut hemat saya, membeli minyak onta cap babi, jauh
lebih menyenangkan daripada mengobral minyak babi cap onta. Buktinya,
partai-partai Islam hanya mampu memberikan nuansa Islami pada saat-saat
tertentu saja. Diharamkannya presiden wanita misalnya, suatu saat keharaman
tersebut akan berubah sesuai dengan kepentingan yang diusungnya. Tatkala
Megawati menjadi presiden, toh Hamzah Haz yang menjadi representasi partai
Islam malah menjadi wakilnya. Baru-baru ini, kasus hebohnya Tifatul
Sembiring bersalaman dengan istri Obama dibesar-besarkan, padahal kejadian
yang biasa saja.

Perbedaan penafsiran, baik diformalisasikannya syariat atau tidak, biarlah
terjadi. Namun, menghakimi orang lain dengan kesesatan atau bahkan
menghalalkan darahnya dengan perbuatan anarkis dan kekerasan sungguh tidak
etis, apalagi dilakukan oleh seorang muslim. “Al-muslimu man salimal
muslimun min lisanihi wa yadihi” kata sebuah hadits. Islam tidak disebarkan
dengan pedang, namun disebarluaskan dengan cinta dengan kasih sayang.
Dakwah adalah ajakan, bukan ejekan. Mungkin PKS, HTI, dan lain-lain sedang
digandrungi oleh sebagian kalangan, namun rasa kesengsem tersebut hanyalah
temporal. Bila kita kaji sejarah, runtuhnya peradaban Islam di Andalusia
disebabkan oleh partai yang mengatasnamakan agama. Nuansa cinta kasih
sesama dan saling mengabdi satu sama lain, berubah menjadi keinginan untuk
menjadi pimpinan yang memegang urusan penting. Agama yang sakral, menjadi
tarik ulur sebuah kekuasaan. Begitu juga yang terjadi di Mesir, kasus IM
yang banyak memakan korban. Tak heran bila al-Imam al-Akbar Grand Syaikh
al-Azhar memiliki program untuk membersihkan al-Azhar University dari
unsur-unsur Ikhwanul Muslimun.

Bila kita mau meneladani Gus Dur dalam perbedaan penafsiran, tentu kita
tidak akan mudah menghakimi sesat dan kafir. Seperti kasus Mosaddiq yang
mengaku nabi, Gus Dur membiarkan dia hidup, dan kebathilan itu akan mati
dengan sendirinya, tanpa harus diselesaikan dengan anarkisme. Merasa benar
sendiri, seolah-olah telah melaksanakan syariat Islam adalah tindakan yang
semena-mena. Apa bedanya Musailamah al-Kazzab yang mengaku nabi dengan
orang-orang yang merasa dirinya paling benar di sisi Tuhan. Biarlah Islam
menjadi agama kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin).

Sebagaimana doa pendiri NW, “Allahumma unsyur liwa’a Nahdlatil Wathan fil
‘alamin”, saya melihat NU tidak pernah memiliki doa seampuh itu, tapi, Gus
Dur memanifestasikan kasih sayang itu tidak hanya di Indonesia, namun juga
di seluruh dunia. Semoga kita bisa meneladani beliau agar Gus Dur hidup
kembali spiritnya untuk menebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin,
bukan ruhamatan lil muslimin; rahmat bagi semesta alam, bukan hanya rahmat
bagi orang Islam. *****

~ by Roni on December 24, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: