Seputar jihad, bi`dah, damai, kafir, rahmat, radikal

Diambil dari milis sebelah. Untuk direnungkan.

=====================================
Benturan antar ”kebenaran” terjadi saat orang-orang berani mengambil-alih
jabatan Tuhan, fungsi Tuhan, dan kerjaan Tuhan. Padahal, dalam ajaran tauhid,
urusan kebenaran adalah hak prerogratif Tuhan. Demikian refleksi KH Abdurrahman
Wahid alias
Gus Dur sebagaimana dituturkannya berulang-ulang kepada Kajian Islam Utan Kayu
(KIUK) di Radio 68H, Jakarta.

Keberagamaan umat Islam saat ini sering dikaitkan dengan radikalisme dan
kekerasan. Apa yang salah menurut Gus Dur?

Saya rasa persoalannya adalah ketidakmengertian. Mereka yang melakukan kekerasan
itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang
penting. Ajaran Islam yang sebenar-benarnya—saya tidak memihak paham mana pun,
baik Ahlus Sunnah, Syi’ah, atau apapun—adalah tidak menyerang orang lain,
tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diusir dari rumah kita. Ini yang
pokok. Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan
kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya.
Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan.

Bagaimana cara menanggulangi radikalisme itu, Gus?

Ya, kita tidak boleh berhenti menekankan bahwa Islam itu
agama damai. Dalam Alquran, ajaran tentang itu sudah penuh. Jadi, kita tidak
usah mengulang-ulang (pernyataan) lagi bahwa Islam itu damai dan rasional. Hanya
saja, memang ada sisi-sisi lain dari Islam yang kurang rasional. Tapi kalau
dipikir-pikir lagi secara mendalam, jangan-jangan itu rasional juga. Jadi dengan
begitu, kita tidak boleh serta-merta memberikan judgement, pertimbangan,
penilaian. Jangan! Kita harus benar-benar tahu latar belakang mengapa seseorang
melakukan kekerasan. Tapi biasanya, yang pura-pura (Islam) itulah yang paling
keras.

Menentang pemerintahan yang zalim, yang menyengsarakan rakyat, apakah bisa
disebut jihad, Gus?

Sekarang kita tetapkan dulu: pengertian jihad itu apa? Jihad adalah berperang di
jalan Allah. Kalau tidak begitu, ya, berarti jihad dalam pengertian lain. Ada
banyak macam jihad, yaitu jihad ashghar (terkecil), shâghîr (kecil), kabîr
(besar), dan akbar (terbesar). Ayatullah Khomaini pernah mengatakan
bahwa jihad ashghar, atau jihad yang terkecil adalah menegakkan keadilan. Tapi
itu tergantung niat Anda juga.

Kalau niat Anda berjihad kecil hanya untuk merobohkan pemerintahan, hasilnya ya,
merobohkan pemerintahan saja. Di sini kita bisa kiaskan dengan ungkapan Alquran
yang menyebutkan itu tergantung pada orangnya. Kalau seseorang mau hijrah karena
Allah dan utusan-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan utusan-Nya.
Tapi kalau hijrahnya demi harta benda atau perempuan yang akan dinikahi, ya,
hijrahnya akan sampai pada apa yang akan dia hijrai itu.

Sama saja dengan cara kita dalam menilai jihad. Luarnya bisa saja seperti jihad;
tapi dalamnya kita nggak tahu. Makanya jangan gegabah dalam soal ini. Nggak
gampang (menilainya, Red).

Bagaimana menentukan sikap Islam yang benar dalam kompleksitas kehidupan dunia
ini?

Sikap Islam yang benar adalah sikap yang sesuai dengan ajaran pokok Islam.
Ajaran pokok Islam ialah: Tuhan
itu satu. Jadi kita dituntut untuk mematuhi ajaran Tuhan, saling kasih
mengasihi, dan sebagainya. Kita harus saling kasih mengasihi antarmanusia. Kalau
mau lebih disempurnakan, ya silahkan. Itu kan urusan masing-masing. Tapi kalau
ada orang yang berpendirian lain, ya nggak apa-apa juga.

Mana yang lebih baik antara undang-undang buatan manusia dengan apa yang sering
disebut ”hukum Tuhan” oleh sebagian aktivis Islam selama ini?

Yang perlu dilihat itu segi pemakaiannya, jangan bikinannya. Quran itu memang
bikinan Tuhan, dan kita pakai pada saatnya. Sedangkan undang-undang dasar itu
buatan manusia, dan kita pakai juga pada tempatnya. Dalam kehidupan bernegara,
kita pakai undang-undang dasar. Dalam kehidupan bermasyarakat kita menggunakan
undang-undang Alqur’an. Begitu saja kok nggak tahu?!

Nah, merupakan kewajiban pemimpin Islam untuk menjelaskan itu supaya jangan ada
kekeliruan. Undang-undang dasar itu memang buatan manusia; jadi
kapan saja mau diubah, ya bisa saja. Kalau Alquran, penafsirannyalah yang dari
waktu ke waktu berubah; dan itu juga diakui oleh Alquran sendiri.

Bagaimana Gus Dur menafsirkan ungkapan Alquran innaddîna ‘indalLâhil islâm?

Artinya begini: sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam. Tapi
itu kan katanya orang Islam, toh?! Ya sudah, selesai! Itu kan juga kata kitab
sucinya orang Islam. Makanya, kalau orang Islam bilang begitu, ya pantas-pantas
saja. Sama saja ketika agama lain mengatakan “Ikutilah aku!” Itu kata Yesus.
Nah, soalnya tinggal kita ikuti atau tidak. Itu saja.

Islam seperti apa yang paling utama bagi Gus Dur?

Yang paling utama bukan Islam golongan, tapi orang Islam. Ingat loh, antara
institusi agama dengan manusianya itu berbeda. Perbedaannya sangat jauh; ada
yang ikhlas, ada yang cari pangkat, cari kedudukan, cari kekayaan, dan lain
sebagainya. Jadi, sangat susah menilai dan mengatakan Islam
mana yang paling baik. Saya saja nggak berani ngakui kalau Islam saya yang
paling benar. Sebisa-bisanya saya jalani saja.

Lalu bagaimana Gus Dur mendefenisikan istilah kafir?

Mengenai pengertian kafir, muballigh kayak Yusril Ihza Mahendra saja–menteri
kita itu—nggak tahu. Dulu dia pernah bilang, “Saya kecewa pada Gus Dur yang
terlalu dekat dengan orang kristen dan Yahudi. Padahal, Alquran mengatakan,
tandanya muslim yang baik adalah asyiddâ’u`‘alal kuffâr (tegas terhadap
orang-orang kafir, Red).” Terus saya balik tanya, “Yang kafir itu siapa?”

Menurut Alquran, orang Kristen dan Yahudi itu bukan kafir, tapi digolongkan
sebagai ahlul kitab. Yang dibilang kafir oleh Alquran adalah ”orang-orang
musyrik Mekkah, orang yang syirik, politeis Mekkah”. Sementara di dalam fikih,
orang yang tidak beragama Islam itu juga disebut kafir. Itu kan beda lagi. Jadi,
kita jelaskan dulu, istilah mana yang kita pakai.

Banyak
sekali soal khilafiah di dalam masyarakat dalam menafsirkan agama yang satu
sekalipun. Apa kriteria perbedaan yang membawa rahmat itu, Gus?

Dulu, ada perbedaan antara Muhammadiyah dengan NU soal tarawih dua puluh tiga
rekaat atau sebelas. Kan begitu?! Semua itu sama-sama boleh. Jadi, jangan ribut
hanya karena masalah seperti itu. Yang harus kita selesaikan adalah
masalah-masalah pokok seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan sebagainya.
Tapi itu malah yang nggak pernah diurusi. Malah yang diributkan tentang
shalatnya bagaimana; sebelas rekaat atau berapa. Itu kan bukan masalah yang
serius?!

Bagaimana membuat Islam sebagai rahmat, bukan malah mendatangkan laknat?

Agama akan menjadi rahmat jika ia datang kepada manusia untuk kepentingan
kemanusiaan. Tapi kalau untuk kepentingan manusianya sendiri, dan bukan untuk
memenuhi kepentingan kemanusiaan, itu bukan agama namanya. Itu penggunaan agama
yang salah. Contohnya, perlunya agama
terlibat langsung dalam isu lingkungan hidup. Itu sangat jelas, karena
lingkungan hidup sangat dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupan.

Isu itu merupakan kebaikan yang menyangkut langsung tentang kemaslahatan hidup.
Makanya, di sini kita rumuskan dengan nama keyakinan. Kalau keyakinan itu untuk
kemaslahatan semua, berarti itu agama. Tapi kalau tidak, ya namanya kepentingan
kelompok. Jadi harus dibedakan antara kepentingan agama secara umum dengan
kepentingan kelompok.

Sekarang ini agama tampaknya hadir kembali ke ruang publik dalam bentuk
partai-partai dan kelompok-kelompok sektarian. Itu makin memperkental identitas
kelompok. Bagaimana tanggapan Gus Dur?

Ya, nggak apa-apa. Disebut atau tidak agamanya, sama saja. Yang penting
agendanya untuk kepentingan kemanusiaan secara umum. Yang menjadi pokok, untuk
kepentingan siapa dia bekerja? Kalau untuk kepentingan kelompok yang
bersangkutan, itu namanya bukan agama. Bagi saya, agama
itu harus hadir untuk semua golongan.

Di Alquran juga ada pengertian mengenai hal ini. Tanda-tanda atau bukti-bukti
kehadiran Tuhan, adalah jika yang bersangkutan mengharapkan kerelaan Tuhan,
bukan untuk dirinya sendiri. Kalau begitu, ya bukan juga demi mengharap masuk
surga. Tapi karena kerelaan. Kemudian untuk kebahagiaan akhirat nanti.

Tanda-tanda kebesaran Allah itu ada dimana-mana; ada yang secara lafzi atau
kata-kata, dan ada yang secara keadaan. Laqad kâna lakum fî rasûlilLâhi
uswatun hasanah, liman kâna yarjulLâha wa yaumil âkhir wa dzakaralLâha
katsîra (Rasulullah telah dijadikan panutan yang baik bagi orang-orang yang
berharap (keridaan) Allah dan hari akhir dan mereka yang banyak-banyak mengingat
Allah, Red). Itu kata Alquran.

Mengapa ada kelompok Islam yang ingin ajaran-ajaran spesifik Islam diatur dalam
hukum negara, seperti kewajiban berjilbab dan lain-lain?

Pemikiran seperti itu sebetulnya bersifat
defensif. Artinya, mereka takut kalau Islam hilang dari muka bumi. Itu namanya
defensif; pake takut-takutan. Sebenarnya, nggak perlu ada rasa ketakutan seperti
itu. Mestinya, hanya urusan-urusan kemanusiaan yang perlu kita pegang. Adapun
soal caranya, terserah masing-masing saja. Jadi orang Islam nggak perlu takut
(Islam lenyap, Red).

Coba saja bayangkan: dulu Islam berasal dari komunitas yang sangat kecil. Tapi
sekarang, Islam jadi agama dunia. Agama Buddha dulu juga demikian, Kristen juga
demikian. Orang Kristen dulu dimakan macan; nggak bisa apa-apa. Sama rajanya
diadu dengan tangan kosong, bahkan diadu dengan singa. Toh sekarang agama
Kristen jadi agama yang merdeka di mana-mana.

Begitu juga dengan Islam. Jadi, tidak usah diambil pusing. Di negara Republik
Rakyat Cina (RRC) yang katanya tak bertuhan, agama Konghucu atau Buddha, dalam
kenyataannya tetap ada dan berkembang walau secara sembunyi-sembunyi.

Mengapa sering terjadi
benturan klaim kebenaran antar agama-agama, bahkan dalam satu rumpun agama yang
sama?

Karena kita berani-beraninya mengambil alih jabatan Tuhan, fungsinya Tuhan,
kerjaannya Tuhan. Emangnya kita siapa, kok berani-beraninya?! Nggak ada yang
lebih tinggi dari pada yang lain. Yang lebih tinggi dan lebih besar dari
segalanya hanya Tuhan

Bagaimana Gus Dur memaknai ajakan berislam secara kâffah atau total?

Islam kâffah itu maksudnya adalah Islam yang memperlakukan manusia sebagai
manusia yang utuh. Jadi kalimat udkhulû fis silmi kâffah itu bukan menyangkut
ajaran Islamnya, tapi soal masuknya yang kâffah. Artinya, masuk ke sana dalam
perdamaian yang total. Kalau dengan kebencian atau apalah, itu nggak total
namanya.

Ada yang bilang, yang tidak sudi menjalankan hukum-hukum Islam pada level
negara, tidak kâffah Islamnya. Mereka dianggap kafir. Pandangan Gus Dur?

Ada hal-hal yang prinsipil dalam Islam, dan tidak semuanya
lantas pantas dikafirkan. Alquran juga menyatakan bahwa “pada hari ini telah
Kusempurnakan agama kalian, dan telah Kusempurnakan pemberian nikmat-Ku kepada
kalian, dan Kujadikan Islam sebagai agama kalian”. Nah, kesempurnaan di situ
menyangkut hal-hal yang prinsipil. Begitulah pemahamannya. Jangan kita salah
paham terus.

Ada cerita tentang orang yang suka salah paham, persis seperti jemaah haji
Indonesia yang bingung ketika di Mekkah. Soalnya, setiap nyegat bis, kernetnya
selalu teriak-teriak: “Haram…! Haram..!” Akhirnya, dia tak mau naik,
karena takut dibilang haram. Lalu dia nungguin bis sampai sore sampai mendengar
yang bilang “halal…! halal…!” Kan susah menghadapi orang yang suka salah
paham gitu?! Kata ”Haram” itu dia pahami sebagai sesuatu yang dilarang
agama. Padahal, maksudnya adalah jurusan Masjidil Haram, hehe.

Ada kesan umat Islam memusuhi seni rupa. Jangankan menggambar sosok nabi,
menggambar makhluk
bernyawa saja dikecam. Bagaiman Islam memandang seni rupa, Gus?

Dulu ada KH. Ahmad Mutamakkin dari Pati. Dia dituduh para ulama fikih di
daerahnya telah mengamalkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Islam.
Kenapa? Dia membiarkan adanya gambar gajah dan ular di tembok masjid. Lalu
tuduhan bertambah: dia anti Islam, karena suka menonton wayang kulit lakon Dewa
Ruci. Kata yang menuduhnya: orang Islam kok percaya dewa-dewi?!

Memangnya kenapa; untuk nonton saja nggak boleh?! Dari sana dia kan bisa
mengambil teori-teori yang dia tidak cocok. Untuk itu, kita ini jangan
gampang-gampang bereaksi, apalagi menganggap orang lain itu kafir.

Bagaimana hubungan Islam dengan kebudayaan lokal Indonesia selama ini, Gus?

Antara agama Buddha dan Islam di Nusantara, banyak sekali
persamaan-persamaannya. Di antaranya ketika Islam (di Indonesia, dan yang lebih
khusus Islam tradisional), disebarkan lewat tradisi. Di antaranya tradisi syair
yang
ditempuh Sunan Kalijaga. Tembangnya sampai sekarang masih terkenal, yaitu
tembang Lir Ilir. Persamaan lainnya adalah dalam hal penjagaan tradisi. Agama
Islam dan Buddha sama-sama mengagungkan tradisi unggah-ungguh antara yang muda
dengan yang lebih tua. Dalam hal ini, budaya-budaya timur sangat sinkron dengan
kedua agama itu.

Tapi permasalahnnya, di level nasional banyak permasalahan yang tidak sepadan
antara budaya-budaya timur—dalam artian budaya kerakyatan—dengan budaya
Indonesia di tingkat nasional yang tampak kebarat-baratan. Misalanya masalah
aurat. Bagi masyarakat pedasaan, jika berpakaian sudah rapi dengan kerudung,
walau menggunakan kerudung yang transparan, itu dianggap sudah menutup aurat.
Tetapi di level nasional, ada yang mengatakan itu masih belum mencapai batas
maksimal penutupan aurat. Di sini timbul masalah.

Sama seperti kasus ciuman. Bagi orang-orang di level nasional, cium pipi itu
sudah merupakan hal yang wajar.
Tapi bagi masyarakat pedesaan, itu hal yang tidak wajar, karena salaman dengan
lawan jenis saja sudah dianggap fitnah. Lalu bagaimana agama menjembatani
tradisi-tradisi yang berbeda antara tradisi yang di atas dengan tradisi yang di
bawah ini?

Caranya adalah dengan menjamin hak-hak orang untuk melakukan penafsiran. Jangan
asal berbeda sedikit dimarahi. Gendeng, apa?! Ya, memang kita nggak bisa
memaksakan hal yang lampau dengan yang sekarang, bukan hanya soal yang bawah
dengan yang atas. Zamannya mbah saya dulu, pakai sarung adalah harus. Dulu,
kaidah NU adalah: man tasyabbaha bi qaumin fahuwa minhum (siapa yang menyerupai
sebuah kaum, dia termasuk kaum itu). Kalau pakai celana, berarti orang Barat,
dong! Begitu, toh?! Tapi, sekarang kan sudah lain. Semua itu perlu peran agama
untuk terus-menerus mendialogkan; mempersoalkan terus tanpa mengganggu
undang-undang.

Apa kuncinya agar usaha dan doa kita terkabul, Gus?

Kuncinya, ya ikhlas.
Kalau nggak terkabul, artinya Anda nggak ikhlas. Simpel saja. Makanya Ibnu
Atha’ al-Iskandari penulis al- Hikam berkata, idfin wujûdaka fî ’ardlil
khumûl (kuburkan dirimu dalam bumi kekosongan, Red). Maksudnya, kita harus
benar-benar kosong supaya tak punya keinginan apa-apa. Susahnya, orang berdoa
itu kan banyak pengennya. Ini celakanya. Makanya, kalau kita berdoa, jangan
minta apa-apa; terserah Tuhan sajalah. Pokoknya yang terbaik menurut Tuhan saja.

Apa gunanya kehendak dan doa jika segalanya sudah ditentukan Tuhan?

Dalam pandangan Islam, manusia boleh menghendaki apa saja, tetapi yang
menentukan jawaban ”ya” atau ”tidak”, ya Tuhan. Ungkapan yang dikenal
yaitu, “AlLâhu yurîd, wan nâs yurîd, walLâhu fa`âllun limâ yurîd”
(Allah berkehendak, manusia juga berkehendak, tetapi hanya Allah yang mewujudkan
apa yang Ia kehendaki). Jadi, prinsip berdoa adalah meminta kepada Tuhan supaya
Dia mengabulkan.

Semoga
bermanfaat, sekali lagi Islam adalah agama yang penuh kedamaian, bukan agama
keras dan penuh kekerasan. Benturan antar ”kebenaran” terjadi saat
orang-orang berani mengambil-alih jabatan Tuhan, fungsi Tuhan, dan kerjaan
Tuhan. Padahal, dalam ajaran tauhid, urusan kebenaran adalah hak prerogratif
Tuhan, jadi bagaimana kita berusaha meminimalkan benturan itu menjadi sifat yang
toleran dan welas asih terhadap sesama, membenarkan yang salah dengan hati dan
akal sehat, dengan opini otak yang cerdas dan cendekiawan bukan dengan okol
tangan atau senjata, membangunkan kaum Muslim yang tertidur dengan trik-trik
yang memaksa mereka berpikir supaya mereka terpaksa giat belajar, Jangan cuma
puas sebagai sampah yang bangga dgn fatwa-fatwa yang seolah lahir dari ogoisme
belaka. Sekarang ini kita adalah mayoritas di dunia, bagaimana bila kita jadi
yang minor. Masihkah kita berani vokal berjubah hadist dan AQ (padahal ilmu
mereka nol!) dengan mengesampingkan hati
dan akal sehat?

~ by Roni on February 19, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: