Gus Dur Sebagai Pelajaran Tuhan

Gus Dur Sebagai Pelajaran Tuhan

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Sampai saat ini, pastilah belum – atau tak pernah – ada orang yang bisa
menandingi Gus dur dalam banyaknya mengumpulkan julukan. Itu. Mereka yang
melihat betapa Gus Dur begitu fanatic dan gigihnya menyesuaikan sikapnya
dengan firman Allah “Walaqad karramnaa banii Adama…” (Q.17:70), mungkin
akan menjulukinya Humanis. Mereka yang melihatnya begitu ‘taat’ dan gigih
mengikuti jejak orangtua dan kakeknya dalam mencintai tanah air, mungkin
akan me-laqabi-nya Nasionalis. Mereka yang melihat kiprahnya di bidang
kesenian dan budaya (ingat Gus Dur pernah menjadi ketua DKJ dan juri FFI),
menjulukinya budayawan atau seniman.

Mereka yang menyaksikannya sering mengisi acara dalam seminar-seminar dan
menuliskan pemikiran-pemikirannya, menjulukinya cendekiawan dan pemikir.
Demikian seterusnya. Pendek kata karena pergaulan dan perhatiannya
sedemikian luas, sebagai public figure, Gus Dur pun mendapat julukan
macam-macam. Orang yang suka, menjulukinya dengan julukan-julukan yang
baik-baik; sedangkan mereka yang tidak suka pun dengan bebas menjulukinya
dengan julukan-julukan yang buruk-buruk.

Bahkan seringkali satu sikap yang sama dari Gus Dur dipandang berbeda oleh
dua pihak yang berlawanan. Yang suka memandangnya sebagai hal yang positif
dan yang tidak suka tentu saja memandangnya negatif. Maka jangan heran bila
suatu ketika Gus Dur dicap plin-plan oleh satu pihak dan dalam ketika yang
sama, pihak lain mengatakan bahwa Gus Dur sedang melakukan taktik sesuai
strateginya. Melihat ke-nyleneh-an Gus Dur, satu pihak menganggapnya gila,
satu pihak yang lain menganggapnya wali.

Begitu aja kok repot Jadi, entah mana yang lebih dahulu: sikap Gus Dur yang
menimbulkan pro-kontra, kemudian terjadi ada yang suka dan yang tidak suka;
atau sebaliknya: ada yang suka dan tidak suka kepada Gus Dur, lalu melihat
apapun sikap Gus Dur dengan kacamata masing-masing? Bagaimanapun, Gus Dur
sendiri ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Atau bahkan Gus Dur-lah ‘akar
masalah’-nya.

Yang saya tahu, Gus Dur itu – meski orang Jawa – tidak termasuk jenis orang
yang senang menyimpan apa yang dia ingin katakan atau lakukan, bahkan apa
yang dia pikirkan. Keyakinannya bahwa perbedaan itu merupakan hal yang fitri
dan termasuk bagian dari sunnatullah begitu kuat, sehingga tidak pernah ada
padanya rasa khawatir sedikitpun bahwa apa yang akan ia katakan atau lakukan
tidak disetujui orang lain. Dia juga sering kali tidak setuju sikap orang,
mengapa pusing-pusing dengan ketidaksetujuan orang terhadap sikapnya.
Diantara kata-katanya yang masih saya ingat setiap habis berterusterang
(diucapkan ketika kami- saya dan Gus Dur- masih suka jalan-jalan bersama di
Kairo tempo dulu), “saya katakan atau tidak, itulah pendapat saya”. Dan dia
lebih suka mengatakannya. Pikirannya mungkin, kalau tidak saya kemukakan,
bagaimana orang tahu sikap atau pendapat saya ?.

Orang lain mungkin ada berfikir, sesuatu yang diyakini benar atau baik,
belum tentu benar dan baik dikatakan. Gus Dur saya kira tidak begitu. Bila
dia meyakini apa yang akan dikatakan benar, dia akan mengatakannya. Bila dia
yakin sesuatu baik dilakukan, dia akan melakukannya. Kalau dia sangat yakin
dia akan ngotot. Orang nantinya tidak setuju ya biar. Dia sendiri kan juga
sering tidak setuju pendapat atau sikap orang lain. Kalau orang lain yang
tidak setuju juga ngotot? ya adu argumen. Begitu saja kok repot !…

Contoh yang masih segar dalam ingatan adalah pendapatnya mengenai pencabutan
Tap MPRS No. XXV/1966 tentang larangan Komunisme, Leninisme, dan Marxisme.
Itu pendapatnya; dia katakan atau tidak. Gus Dur mungkin tidak
mempertimbangkan reaksi orang terhadap pendapatnya iru, terutama reaksi
orang yang sejak awal tidak menyukainya. Dia kelihatanya juga cuek kalaupun
pendapatnya itu bisa dijadikan senjata bagi mereka yang tidak menyukainya
untuk menyerang atau menyudutkannya. ‘saya toh cuma menyampaikan pendapat.’
Begitu mungkin pikirnya. Tentu tak terpikirkan oleh Gus dur bahwa orang kita
masih banyak yang tomtomen, trauma dengan kebiasaan zaman Presiden Soeharto
yang kalau punya pendapat akan menjadi kenyataan, karena MPR dan DPR waktu
itu dan selama orde baru hanya ikut apa kata presiden. ‘keberanian berbeda’
itu saya pikir, antara lain dan terutama karena Gus Dur sudah terbiasa
berbeda dalam lingkungannya, termasuk dalam keluarganya. Almarhumah Ibu
Wahid Hasyim (saya mengenal sebelum saya kenal Gus Dur) adalah seorang ibu
dan sekaligus kepala keluarga yang- seperti juga Almarhum Kiai Wahid Hasyim
sendiri, rahimahumallah-sangat democrat, dan menghormati perbedaan. Lihatlah
putra-putra beliau dalam pemilu kemarin, Gus Dur mendukung PKB, Mbak A’isyah
Golkar, Mas Solahuddin di PKU, dan Gus Hasyim di PDI-P.

Kakek-Kakek, paman-paman, dan kiai-kiainya yang saya kenal, juga orang-orang
yang minimal tidak pernah menganggap perbedaan sebagai hal yang haram. Kiai
Bisri Sansuri dan Kiai Wahab Hasbullah, ‘dwi tunggal’ yang hampir tidak
pernah berpisah dalam memimpin NU -Allah Yarhamhum-misalnya, hampir selalu
berbeda pendapat dalam berbagai persoalan, Mungkin karena yang satu
pendekatannya lebih kepada fiqh dan yang lain ushul fiqh. Dan terbukti
perbedaan antara mereka yang sering kali begitu tajam, tidak pernah
menimbulkan persoalan di kalangan NU; bahkan banyak yang menganggapnya
rahmah.

Satu dan lain hal, karena orang NU banyak; jadi dalam masalah yang
menyangkut kepentingan orang banyak, ada yang merasa mantap didukung Kiai
Bisri, ada yang merasa ayem diayomi Kiai Wahab. Pak Yusuf Hasyim, paman Gus
Dur, mungkin andapun sudah tahu sendiri; bagaimana setiap kali berbeda
bahkan saling kecam dengan keponakannya yang dicintainya itu.

Diantara Kiai-Kiai Gus Dur yang sempat saya kenal secara pribadi, antara
lain Kiai A. Fattah dan Kiai Ali Maksum – Allah yarhamhum. Mereka juga
demikian. Mereka ini mungkin sedikit Kiai yang mau – bahkan agaknya senang –
berdikusi dengan anak-anak muda, termasuk santrinya sendiri.

Dipuja sekaligus dibenci Konsekuensi -yang barangkali sangat disadari oleh
Gus Dur sendiri- dari sikapnya yang tidak suka ‘memendam sikap’ dan cueknya
terhadap reaksi pro-kontra orang itu, Gus Dur pun menjadi tokoh
kontroversial sejati yang dipuja sekaligus dalam waktu yang sama dibenci.
Konsekuensi ini menurut saya justru lebih merugikan kedua belah pihak yang
memuja dan membencinya, katimbang Gus Dur sendiri.

Orang yang memuja atau membenci -dua sikap tatharruf yang tak mungkin jejeg-
bisa dipastikan tidak akan mampu bersikap adil dan obyektif. Anda dapat
membuktikannya sendiri dalam kumpulan pendapat di buku ini.Pendapat
-pendapat dalam buku ini adalah pendapat-pendapat tokoh intelektual dan
pakar. Ketidakadilan dan ketidak-obyektifan mereka yang memuja atau membenci
itu, tidak hanya terhadap hal yang menyangkut pribadi Gus Dur sendiri, tapi
bisa merembet ke hal-hal lain yang ada kaitannya dengan pembicaraan mereka
tentang Gus Dur.

Dalam hal ini, menurut saya, pendapat mereka tak akan banyak manfaatnya,
kecuali mungkin untuk memuaskan diri mereka sendiri.

Sebagai cantoh, saya mendapati dalam sementara tulisan dibuku ini,
kekeliruan yang tidak seharusnya terjadi seandainya si penulisnya tidak
terlanjur dihinggapi sikap tatharruf, seperti misalnya penyebutan “Kembali
ke Khittah 26″ untuk ” Khittah Nahdlatul Ulama” dan anggapan bahwa khitthah
Nahdlatul Ulama itu merupakan pikiran Gus Dur yang merupakan sikap politik
dan didorong oleh kepentingan politik. (Orang-orang yang ikut merumuskan
Khitthah dari awal bersama Gus Dur, masih banyak yang hidup. Mereka mungkin
akan tertawa atau sedih melihat bagaimana orang bicara begitu pasti tentang
Khitthah yang sama sekali tidak dia mengerti; hanya semata-mata karena koran
terlanjur menyebutnya ahli, pakar atau peneliti).

Bila tokoh intelektual dan pakar saja bisa kehilangan sikap adil dan
obyektivitas, ketika membicarakan Gus Dur, bagaimana dengan yang lain ?

Waba’du; boleh jadi – wallahu a’lam – Gus Dur memang merupakan ‘pelajaran’
atau ‘pengajaran’ paling keras dari Allah kepada bangsa yang tak kunjung
bisa berbeda dan bersikap adil ini.

Mulai zaman kerajaan hingga ‘raja’ Soeharto, bangsa ini boleh dikata tidak
pernah diajari untuk berbeda. Bahkan yang selalu dididikan oleh para
penguasanya – terutama penguasa orde baru – adalah penyeragaman (ingat
kuningisasi kemarin yang sengaja digalakkan seperti halnya korupsi, koneksi,
nepotisme, pelecehan hukum dsb.) Hingga tanpa terasa, di Republik ini
perbedaan yang paling fitri pun masih dipandang sebagai hal yang angker,
Perbedaan sekecil apapun disini bisa menjadi masalah. Orang yang berbeda
diidentikkan dengan musuh, Dan pada gilirannya orang pun sulit bersikap adil
dan obyektif. Oleh karena itu jangan heran bila demokrasi disini masih terus
hanya -atau baru- menjadi impian dan slogan. Bagaimana demokrasi bisa hidup
di negeri dimana bangsanya tidak mampu berbeda dan bersikap adil ?

Penjelasan tentang ke-fitri-an perbedaan dan anjuran bersikap serta berpikir
adil dari agama sendiri seolah-olah tidak mempan menginsyafkan kaum beragama
di negeri ini; kemungkinan besar ya akibat pendidikan penyeragaman dan
ketidakadilan yang begitu lama dan intens itu.

Barangkali – dan mudah-mudahan – karena sayang Allah kepada bangsa ini, Ia
pun terus ‘mengingatkan’ dengan setiap kali memperlihatkan fenomena-fenomena
kontroversial yang – betapapun ingin kita menyeragamkan- tak pernah dapat
menyatukan pandangan kita. Ambil contoh, berulangkalinya terjadi perbedaan
hari raya, baik iedul fitri maupun adha. Betapapun hebatnya argumen
masing-masing pihak, tetap saja tak mampu membuat pihak lain sependapat.
Masing-masing hanya akan bersikap sesuai keyakinan sendiri. (Iedul Adha
kemarin malah lebih istimewa. Keputusan atau Ikhbar PBNU berbeda dengan
keputusan pemerintah yang nota bene presidennya mantan ketua umum dan
menteri agamanya mantan rais syuriyah PBNU. Bagaimana anda menjelaskan
fenomena ini ?).

Boleh jadi karena berkali-kali kita tidak bisa mencerdasi
‘pelajaran-pelajaran’ Allah yang diberikan secara itu, Ia pun memberikan
pelajaran puncak : memberikan kepada kita seorang imam yang paling
kontroversial yang pernah dimiliki Republik Ini. Tokoh kontroversial yang
sedikit pun tidak mempunyai rasa takut terhadap perbedaan. Gus Dur!

Dipilih Allah

Bukan Poros Tengah yang memberi kita presiden Gus Dur, bukan Amien Rais,
bukan NU, apalagi PKB – partai yang dideklarasikan Gus Dur sendiri. Tanyakan
kepada hati kecil orang-orang Poros Tengah dan fraksi-fraksi maupun
faksi-faksi yang ada di MPR, termasuk Amien rais sendiri: apakah Gus Dur
memang menjadi pilihan mereka untuk menjadi Presiden ? Asal mereka jujur
kepada diri sendiri, saya berani bertaruh mereka semua pasti akan menjawab
tidak.

Dari sekaian juta orang yang segar bugar, sekian ribu politisi, sekian ribu
ahli politik, sekian ribu tokoh masyarakat, dan sekian ribu pakar
tata-negara; bukankah aneh, Gus Dur yang terpilih menjadi presiden? Perlu
diingat pula, Gus Dur yang secara resmi bukan tokoh partai politik maupun
tokoh pemerintahan yang sedang berkuasa dan bukan pula milioner, dipilih
secara demokratis – bahkan paling demokratis dalam sejarah Republik ini –
oleh MPR hasil pemilu yang demokratis dalam era keterbukaan dimana setiap
orang bisa -tidak seperti kemarin-kemarin – menyampaikan aspirasinya
sebebas-bebasnya. Gus Dur dipilih oleh MPR yang anggota-anggotanya tidak
lagi ada yang sakit gigi seperti tempo hari.

Jadi, minimal menurut keyakinan saya sendiri, Gus Dur -tokoh kontroversial
sejati yang ‘suka’ berbeda ini- memang dipilih Allah untuk memberikan
pelajaran kepada kita, bangsa yang selama ini terus-menerus hanya dididik
bersikap seragam dan tidak menghargai keadilan.

Wallahu a’lam.

~ by Roni on December 29, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: