Kraton Dan Perjalanan Budayanya

Kraton Dan Perjalanan Budayanya

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Selasa, 28 Januari 2003

Dalam minggu keempat bulan Desember 2002, penulis atas undangan Susuhunan
Pakubuwono XII dari Solo, melancong ke Kuala Lumpur untuk dua malam. Penulis
memperoleh undangan itu, karena Sri Susuhunan juga diundang oleh sejumlah
petinggi Malaysia guna merayakan ulang tahunnya yang ke 80. Ini menunjukkan,
bahwa pengaruh Keraton Solo Hadiningrat masih kuat hingga ke negeri jiran,
seperti Malaysia. Sudah tentu pengaruh tersebut bersifat budaya/kultural
saja; karena pengaruh politisnya sudah diambil alih pemerintah negeri kita.
Inilah yang harus disadari, karena kalau yang diinginkan adalah pengaruh
politik tentu akan kecewa, karena tidak dapat meraihnya.

Kunjungan tersebut penulis lakukan tanpa memberitahukan pihak pemerintah
Malaysia, terutama kantor Perdana Menteri Mahathir Muhammad, karena
kunjungan tersebut tentu akan diambil alih oleh pihak pemerintah federal
–yang , kalau di Malaysia disebut kerajaan. Pihak protokol akan membuat
susah teman-teman Malaysia yang ingin menjumpai penulis, yang akan membuat
penulis tidak merdeka karena memberitahukan kedatangan terlebih dahulu.
Tentu, ini juga merupakan pertanda bahwa kunjungan itu sendiri tidak
mempunyai arti politis apapun. Dengan demikian, penulis juga merasa tidak
perlu memberitahukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur
atas kunjungan tersebut. Karena penulis tidak ingin digannggu siapapun dalam
melakukan kunjungan tersebut.

Pada hari kedua, penulis melakukan perjalanan selama tujuh jam
(pulang-pergi) untuk melakukan ziarah ke makam Hang Tuah, di Tanjung Keling,
Negara bagian Malaka. Di tempat itu, kepada penulis dibacakan serangkaian
tulisan yang menyertai beberapa buah gambaran/lukisan tentang beliau.
Katakanlah semacam diorama tentang kehidupan Hang Tuah, yang sejak masih
muda sudah mengabdi kepada Raja/ Sultan Malaka. Bahkan, oleh intrik istana
ia diharuskan membunuh saudara seperguruan dan senasib sepenanggungan yaitu,
Hang Jebat. Harga inilah yang harus dibayar oleh Hang Tuah untuk
pengabdiannya kepada Sultan. Ia adalah prototype “Korpri sempurna”,
–seperti halnya Habib Abdurrahman Al-Basyaibani, yang dikuburkan di
Segarapura, Kemantrenjero (sekarang terletak di Kecamatan Rejoso, Pasuruan).
Ia adalah nenek moyang penulis yang menjadi yang menjadi abdi dalem Sultan
Trenggono dari Demak.

*****

Penulis mengemukakan bahwa Susuhunan Pakubuwono XII masih memainkan peranan
penting dalam rangkaian ikatan budaya/ kultural yang merekatkan kedua bangsa
serumpun, Indonesia dan Malaysia. Apapun perbedaan antara keduanya, namun
persamaan yang ada haruslah di pupuk terus, agar menghasilkan ikatan yang
semakin kuat di hadapan tantangan modernisasi kehidupan, yang sering
mengambil bentuk westernisasi (pembaratan). Di kala perkembangan politik
justru mengarahkan Indonesia dan Malaysia untuk saling bersaing, maka
persaingan itu sendiri haruslah diimbangi oleh ikatan-ikatan budaya/kultural
yang sangat kuat. Seperti halnya Kanada, yang secara politis lebih terikat
kepada kerajaan Inggris, yang terletak 9000 km di seberang lautan, dan
secara kultural lebih dekat dari pada Amerika Serikat yang secara geografis
adalah Negara jiran/ tetangga.

Bahwa ikatan seperti ini, yaitu berdasarkan persamaan budaya antara dua
negara, masih mempunyai kekuatan sendiri, tidak dapat dibantah lagi.
Bagaimanapun juga, negara jiran Australia justru merasa lebih dekat kepada
kerajaan Inggris atau Amerika Serikat. Yang memiliki ikatannya sendiri; satu
dengan yang lain sebagai budaya. Inilah “kodrat alami” yang intensitasnya
tidak dapat disangkal lagi oleh siapapun. Karena itu, kemauan pihak Keraton
Solo sangatlah memiliki arti penting; ia menunjang kedekatan hubungan antara
Indonesia dan Malaysia.

Karena itulah, penulis tidak mengerti mengapa ada pejabat Indonesia yang
mengatakan bahwa Keraton Solo tidak ada penting artinya bila dibandingkan
dengan keraton lain di Jawa. Ini adalah ucapan orang yang tidak mengerti
duduk masalah peranan budaya sebuah keraton. Yang dimengerti orang itu
hanyalah peranan politisnya belaka, yang belum tentu memiliki arti
kelanggengan dalam hubungan antara kedua bangsa. Karena itu, setiap kali
kita memperhatikan hubungan antara dua bangsa serumpun, seperti Indonesia
dan Malaysia, tentulah menjadi sangat penting untuk mengetahui peranan
politik atau peranan budaya yang dimaksudkan. Kerancuan dalam melihat hal
ini hanya akan membuat kita kepada keadaan tidak menguntungkan: ditertawakan
orang baik di Indonesia maupun di Malaysia.

*****

Dalam jamuan makan malam untuk menghormati ulang tahun ke-80 Susuhunan
Pakubuwono XII di Kuala Lumpur, penulis juga mengemukakan sebuah arti lain
dari peranan budaya itu. Pada saat ini, Malaysia dan Thailand sedang
mengutamakan pengembangan wilayah sebelah utara dari kawasan Asean –yaitu,
Myanmar, Vietnam, Laos dan Kamboja. Secara politis, ini berarti Malaysia dan
Thailand mengambil peranan politik lebih besar di wilayah utara kawasan
Asean tersebut. Ini tentu dapat dimengerti, karena dua negara di wilayah
selatan dari perhimpuann kawasan Asean itu, yaitu Singapura dan Indonesia
sedang dilanda krisis masing-masing. Dalam hal ini, Malaysia dan Thailand
melakukan sebuah hal yang alami dan wajar, yaitu mengisi sebuah kekosongan
politik. Lain halnya dengan wilayah selatan kawasan tersebut. Asean belum
dapat menerima Papua Nugini, Timor Lorosae dan negeri-negeri pasifik sebelah
barat (western pacific state). Maka dengan sendirinya, lebih sulit bagi
Indonesia untuk mendukung mereka secara kongret di bidang politik, sedangkan
hubungan budaya dengan wilayah tersebut masih belum berkembang secara pesat.
Keeratan hubungan budaya antara Indonesia dengan wilayah pasifik barat daya
tersebut, akan sangat ditentukan oleh kerjasama ekonomi dan komersil.
Sementara itu, peranan Malaysia di wilayah sebelah utara di kawasan Asean
itu berjalan sangat cepat, tidak seperti peranan politik Indonesia di
wilayah selatan di kawasan tersebut, yang terasa tidak bertambah sama
sekali.

Sudah tentu, antara peranan politik Indonesia dan peranan budaya Malaysia di
wilayah masing-masing itu, harus disambungkan secara baik. Dalam hal ini,
keraton Surakarta Hadiningrat mempunyai peluang sangat besar mengembangkan
peranan kedua bangsa serumpun itu. Inilah yang harus senantiasa menjadi
pegangan dalam meninjau posisi keraton dalam hubungan itu. Dan ini adalah
peranan alami, yang bagaimanapun juga tidak akan dapat diimbangi oleh
hubungan yang direkayasa dan berlangsung tidak alami. Dalam hal ini, kita
tidak memerlukan intervensi khusus. Mudah sekali untuk menyatakan hal itu,
namun sangat sulit untuk menyatakannya, bukan?

Jakarta, 27 Desember 2002

~ by Roni on August 31, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: