Dangdut, Sebuah Pemberontakan Massal?

Dangdut, Sebuah Pemberontakan Massal?

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Kamis, 29 Januari 2004

Pada suatu pagi penulis naik kendaraan ke Surabaya, untuk menghadiri rapat
umum “perkenalan” Partai Pelopor, yang dipimpin Rahmawati Soekarnoputri.
Ternyata, penulis tidak dapat menemukan di mana tempat pertemuan itu
berlangsung. Dalam perjalanan ke Cengkareng itu, penulis mendengarkan siaran
sebuah stasiun radio FM dari Tanggerang, yang menamakan diri Bandar Dangdut
Indonesia. Dengan cermat, penulis mula-mula mendengarkan sebuah lagu yang
bernada nasehat moral untuk tidak ikut “masyarakat yang sudah gila”. Ini
disusul oleh sebuah gambaran sepasang pengantin yang duduk di pelaminan.
Kemudian disusul dengan penceritaan tentang keadaan kini yang penuh dengan
“pemberontakan anak muda”. Akhirnya, sebelum dibacakan warta berita,
disodorkan sebuah lagu lama dari masa ketika Oma Irama baru mulai
“menyimpang” ke dunia dangdut. Penulis lalu teringat, bahwa Oma Irama
berangkat dari dunia musik pop Indonesia. Entah karena apa, ia lalu
meyimpang ke dunia dangdut, di mana ia menjadi raja, relatif hingga saat
ini. Namanya ditambah dengan singkatan Raden Haji sehingga lengkapnya
berbunyi Rhoma Irama.

Mula-mula, lagu-lagunya tidak memperoleh bentuk yang pasti. Cinta kasih,
penolakan pada materialisme, kebanggaan akan bagian budaya Indonesia dan
sebagainya, menjadi tema-tema yang digarapnya dengan serius. Kemudian ia
beralih kepada nasehat yang diperlukan orang muda dalam berbagai bidang
kehidupan. Lalu, ia mendendangkan demokrasi, yang kala itu masih menjadi
impian saja. Dan selama beberapa tahun terakhir ini, ia mengumandangkan
tema-tema keagamaan dalam nyanyian-nyanyiannya. Bahwa hal itu lalu diikuti
oleh sejumlah penyanyi-penyanyi lain dapatlah dipahami. Tetapi kemudian, ia
menjadi “marah besar” ketika Inul Daratista membuat goyangan “ngebor” dalam
nyanyian-nyanyian dangdutnya, dapatlah dipahami. Namun ia lupa, konstitusi
memberikan peluang kepada Inul untuk berbuat demikian. Penulis membela hak
konstitusional Inul, tetapi tetap khawatir akan proses demoralisasi yang
menjadi akibatnya, tepat seperti Bang Haji (panggilan penulis untuk Rhoma
Irama).

Dari “penyimpangan” Bang Haji ke musik dangdut itu, penulis yakin, bahwa
sebuah “pemberontakan massal” tengah terjadi dalam blantika musik di negeri
kita. Bukan hanya pemusik kawakan seperti Bang Haji, dengan tatanan musiknya
yang apik dan liriknya yang memukau, tetapi juga dengan biramanya yang
menyentuh hati kita yang sedikit demi sedikit “ditariknya” ke langgam
dangdut yang ditampilkannya. Ia menyanyi tidak asal menyanyi, tetapi penuh
dengan perasaan yang ditampilkan oleh jiwa raganya.

Beberapa orang penyanyi dangdut sanggup mengikutinya, namun pada umumnya
kata-kata yang mereka kemukakan hanya bersifat vulgar, dan permainan musik
yang ditampilkan terdengar berantakan. Erotika “nafsu seksual” yang bermutu
rendah menjadi isi utama dari lagu-lagu dangdut yang mereka sodorkan. Inilah
yang membuat penulis jarang mendengarkan lagu-lagu dangdut belakanngan ini:
seleranya terlalu rendah.

Lagu-lagu dangdut yang bermutu tinggi, memang mengasikkan untuk didengar.
Kita harus pandai memilih mana lagu-lagu dangdut yang patut didengar, dan
mana yang tidak. Karena itu, musik dangdut bagi penulis masih merupakan
“penyimpangan” dari sebuah garis umum yang memerlukan lyric yang baik kepada
musik yang mengesankan dan langgam yang mengasikkan. Selain Bang Haji dan
beberapa orang pemusik lain, penulis masih mencatat bahwa sebagian besar
penyanyi dangdut belum mencapai tingkat kesenimanan yang dewasa dan hanya
sekedar mencari uang dan ketenaran melalui goyangan-goyangan erotis belaka.
Mereka belum mencapai (atau mungkin tidak) tingkat kesenimanan yang matang
untuk menghidupi budaya bangsa. Kenyataan ini tidak terbantahkan oleh
siapapun, termasuk oleh para “dedengkot” musik itu sendiri. Sejarahlah yang
akan membuktikan benar atau tidaknya perkiraan ini.

*****

Ortega Y Gasett filosof sosial Spanyol yang terkenal itu, dalam karyanya
berjudul “Rebellion de las massas” (Pemberontakan Massa) mengemukakan bahwa
massa rakyat di masyarakat-masyarakat modern ini, akan menampilkan rasa seni
yang “memberontak” terhadap kemapanan yang ada. Pemberontakan seni itu akan
diikuti oleh pemberontakan moral dan seterusnya. Seperti sekarang yang
sering kita dengar bahwa di”negeri-negeri maju”, hukum memperkenankan
perkawinan lesbi (sesame perempuan) maupun perkawinan gay (antara sesama
lelaki). Dalam bacaan-pun, terjadi pemberontakan selera, dengan semakin
banyaknya orang “menikmati” berbagai komik dan novel mata-mata.

Perubahan nilai itu lebih dirangsang lagi oleh semakin menguatnya dunia
pariwisata. Jadilah dunia merupakan gado-gado yang berlainan dengan versi
yang selama ini dianut. Sebenarnya pemberontakan kultural itu dalam beberapa
hal seringkali justru dapat mengatasi pembatasan terhadap “tingginya”
ekspresi kesenian yang dibuat pada masa sebelumnya. Hal ini dapat dilihat
dalam perjalanan ludruk, yang menggunakan para pemain pria untuk memainkan
peran sebagai wanita. Contoh paling tepat dalam hal ini adalah Tessy dalam
pagelaran yang dipertunjukkan oleh perkumpulan Srimulat. Ini jelas adalah
pembelokan peran, yang di tempat lain dimainkan oleh wanita sendiri. Sebab
karena kuatnya pengaruh agama yang tidak memperkenankan pemain wanita muncul
di atas panggung, pada waktu itu. Sekarang, setelah munculnya wanita
“menjadi biasa” di atas panggung, maka “pemberontakan budaya” sebenarnya
sudah tidak perlu lagi. Namun, karena hal itu telah “dibiasakan” oleh publik
yang menikmatinya, maka kebutuhan untuk itu lalu menjadi sesuatu yang khas.
Pemberontakan lalu menjadi kemapanan. Halnya sama dengan lagu dangdut. Ia
bermula dari respon terhadap lagu pop, yang kemudian “dengan perbaikan”
terus-menerus akhirnya menjadi sesuatu yang umum dan bisa bermutu tinggi.
Upaya manusia yang bernama Rhoma Irama sangat menentukan dalam hal ini.

Tentu saja “perlawanan kultural” tidak selamanya dapat menghasilkan mutu
tinggi dalam produk-produk yang ditawarkan pada publik. “Kekurangan” yang
sekarang dirasakan oleh sejumlah penyanyi dangdut, dengan”, dapat dilihat
sebagai upaya untuk menampilkan substitusi (penggantian) melalui
“goyangan-goyangan erotis, akibat ketidakmampuan menyajikan persembahan lagu
dangdut bermutu tinggi. Maka terjadilah “pemberontakan dalam pemberontakan”,
yang lahir dari ketidakmampuan memberikan persembahan bermutu tinggi. Jika
dilihat dari sudut pandang ini, maka telah terjadi kesenjangan kultural di
lingkungan lagu-lagu dangdut juga, padahal ia tadinya adalah “pemberontak
kultural” terhadap kemapanan lagu-lagu pop dan seriosa. Kemapanan kultural
yang dialami oleh lagu-lagu dangdut itu adalah perjalanan yang lumrah di
bidang budaya. Tak ada yang perlu ditangisi, dan tidak pula diperlukan
“upaya khusus” untuk menolong perkembangan sebuah bentuk budaya.

*****

Justru hal-hal “lumrah” tersebut yang kini memerlukan perhatian khusus dari
para “perancang budaya”. Lalu-lagu keroncong dan pagelaran music daerah
(seperti gamelan) justru harus dipikirkan eksistensinya. Jika tak ada
pagelaran wayang, tentu musik gamelan sudah lenyap dari budaya Jawa. Begitu
juga keroncong, yang sekarang sudah menjadi sesuatu yang kuno dalam
pandangan publik. Film-film dengan ceritera-ceritera yang menampilkan
kekerasan dan “kejantanan” fisik, kini boleh dikata sudah menjadi umum,
sedangkan ceritera-ceritera yang dahulunya dianggap umum, sekarang sudah
menjadi langka. Walaupun dahulu “tokoh-tokoh keras” seperti Alan Ladd, Burt
Lancaster dan Gary Cooper menampilkan “sosok tubuh koboy jagoan”, namun
dalam peragaan mereka tidak diperlihatkan secara spesifik penggunaan
kekerasan secara berlebihan. Namun sekarang, “figur biasa” justru menggelar
tindak-tindak kekerasan yang berlebih-lebihan.

Jadi, kita melihat bahwa “perlawanan kultural” terhadap kemapanan yang ada,
mengambil bentuk yang sangat mengerikan bagi para pendidik atau orang tua
yang “konvensional”, karena terasa sekarang ini telah terjadi perkembangan
baru: penggunaan erotisme dan kekerasan secara berlebih-lebihan. Sampai
dimanakah perkembangan “nilai-nilai baru” itu akan berlangsung, belum ada
orang yang mampu memetakan landscape-nya dengan baik, seperti yang dilakukan
Gasett di atas. Inilah sebabnya mengapa mereka yang merasa prihatin atas
nilai-nilai seksual dan kekerasan yang baru, akhirnya menggunakan “bahasa
defensive” (bertahan) melalui khotbah agama dan “penjelasan moral” seperti
banyak terjadi dewasa ini. Bahwa tempat-tempat peribadatan menjadi “ajang
dialog” mengenai kepatutan seni dan budaya, menunjukkan dengan jelas adanya
“krisis budaya” tersebut. Ini berarti terjadinya disfungsi (salah-peran)
yang harus dikembalikan ke jalan “yang benar”. Tentu saja ini hal hal mudah
untuk dikatakan, namun sulit dilaksanakan, bukan?

Juanda, 4 Januari 2004

~ by Roni on July 6, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: