Bahasa Geram

Bahasa Geram

18 Juni 2010 14:00:10

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas
global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di
tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak
hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang
kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk
kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve–tampaknya suka dengan berita
dan tayangan-tayangan kemarahan.

Lihatlah “bahasa” orang-orang terhormat di forum-forum terhormat itu dan
banding-sandingkan dengan tingkah laku umumnya para demonstran di jalanan.
Seolah-olah ada “kejumbuhani” pemahaman antara para “pembawa aspirasi”
gedongan dan “pembawa aspirasi” jalanan tentang “demokrasi”. Demokrasi
yang–setelah euforia reformasi–dipahami sebagai sesuatu tatanan yang mesti
bermuatan kekasaran dan kemarahan.

Yang lebih musykil lagi “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula
di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan,
ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak
disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa
gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah
sejati.

Khususnya di ibu kota dan kota-kota besar lainnya, di hari Jumat, misalnya,
Anda akan sangat mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah “ustadz” yang
dengan kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak
sealiran atau sepaham dengannya. Nuansa nafsu atau keangkuhan “Orang Pintar
Baru” (OPB) lebih kental terasa dari pada semangat dan ruh nasihat keagamaan
dan ishlah.

Kegenitan para ustadz OPB yang umumnya dari perkotaan itu seiiring dengan
munculnya banyak buku, majalah, brosur dan selebaran yang “mengajarkan”
kegeraman atas nama amar makruf nahi munkar atau atas nama pemurnian syariat
Islam. Penulis-penulisnya–yang agaknya juga OPB—di samping silau dengan
paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri
sendiri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan baru”-nya. Lalu menganggap apa
yang dikemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapatnya adalah kebenaran
sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan
yang salah pasti jahanam.

Dari bacaan-bacaan, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah dan ujaran-ujaran lain
yang bernada geram dan menghujat sana-sani tersebut pada gilirannya
menjalar-tularkan bahasa tengik itu kemana-mana; termasuk ke media
komunikasi internet dan handphone. Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis
orang di ruang-ruang yang khusus disediakan untuk mengomentari suatu berita
atau pendapat di “dunia maya” atau sms-sms yang ditulis oleh anonim itu.

Kita boleh beranalisis bahwa fenomena yang bertentangan dengan slogan
“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah” tersebut akibat dari berbagai
faktor, terutama karena faktor tekanan ekonomi, ketimpangan sosial dan
ketertinggalan. Namun, mengingat bahwa mayoritas bangsa ini beragama Islam
pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja musykil. Apalagi
jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti luhur itu justru ikut
menjadi pelopor tren tengik tersebut.

Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan
paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad
SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para
pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah dan perilaku Nabi
mereka.

Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperikan sendiri oleh Allah dalam al-Quran,
memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4).
Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159). Bacalah kesaksian
para shahabat dan orang-orang dekat yang mengalami sendiri bergaul dengan
Rasulullah SAW. Rata-rata mereka sepakat bahwa Panutan Agung kita itu
benar-benar teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak
kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan cara yang
menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih
memaafkan. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir
r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan…”, Sesungguhnya Allah
tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan
yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Bagi Nabi Muhammad SAW pun, orang yang dinilainya paling mulia bukanlah
orang yang paling pandai atau paling fasih bicara (apalagi orang pandai yang
terlalu bangga dengan kepandaiannya sehingga merendahkan orang atau orang
fasih yang menggunakan kefasihannya untuk melecehkan orang). Bagi Rasulullah
SAW orang yang paling mulia ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Wallahu
a’lam.

KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

~ by Roni on June 24, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: