Kesalehan Vs Kemungkaran

Kesalehan Vs Kemungkaran

Jumat, 7 Mei 2010 | 04:38 WIB

Said Aqiel Siradj

Belakangan ini, kita kerap disuguhi adegan penggerebekan dan penggusuran.
Dua kata tersebut kini telah menjadi ”momok” buat sebagian masyarakat
terutama mereka yang terpinggirkan, baik secara ekonomi, sosial, maupun
agama.

Para pedagang kali lima, gelandangan, pengemis, WTS, waria, serta sejumlah
”identitas” masyarakat lainnya kerap jadi obyek tindakan ”main
undang-undang” dan juga ”main hakim sendiri”. Nasib mereka seolah-olah jadi
bulan-bulanan pihak aparat ataupun kelompok-kelompok tertentu di negeri yang
konon menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ini. Menjamurlah fakta adanya
perlakuan sekelompok masyarakat berpayung ormas keagamaan yang melarang
kelompok lain untuk mengekspresikan diri.

Aksi main gerebek sekelompok umat Islam jelas bukan representasi sikap umat
Islam secara keseluruhan. NU prihatin atas aksi main hakim sendiri.
Organisasi apa pun di luar kepolisian tak berhak membubarkan kegiatan yang
dinilai menyalahi aturan. Ormas keagamaan mestinya lebih bijaksana bersikap
dan bertindak agar tak terjadi benturan, lebih-lebih penilaian negatif
terhadap agama tertentu. Agaknya ada sesuatu yang ”tidak beres” di negeri
ini menyangkut jaminan keselamatan warga negara dan semangat tenggang rasa
termasuk di lingkungan keagamaan. Tak heran, tindakan penggerebekan sering
menggema atas nama agama sehingga massa mudah tersulut secara herois dan
militan.

Dulu muncul gegeran akibat tesis Huntington tentang ”benturan peradaban”.
Namun, benturan ternyata tak hanya seputar arena politik dan demokrasi.
Seturut waktu, ia meluas pada soal kemanusiaan yang lebih kompleks, seperti
perceraian, aborsi, persamaan jender, hak kaum homoseks, dan prostitusi.
Terjadi garis pemisah yang menebal antara nilai modernitas dan globalisasi
dengan sikap keagamaan. Ketegangan ini lazim dirumuskan sebagai musykilah
al-ashalah wa al-hadatsah, ketegangan antara keotentikan dengan modernitas,
yang terlimpah antara desa lawan kota, buta huruf lawan pendidikan,
kepasrahan lawan ambisi, atau kesalehan lawan kemungkaran.

Versi kesalehan kemudian disifati dengan sikap selektif dan reaktif,
didesain untuk memberlakukan kembali nilai dan norma yang dihubungkan dengan
tradisi tak bercacat yang diyakini berlaku pada masa lalu. Mentalitas
kesalehan ini adalah antipermisif dan memperhadapkan secara keras segala
asusila. Ia terpancung untuk melakukan aksi sapu bersih dalam segala hal
termasuk terhadap apa yang disebut penyakit sosial. Yang terjadi kemudian,
tak ada pemisahan antara yang diny (ajaran keagamaan) dan mana yang tarikhi
atau tsaqafi (historis-kultural). Diktum amar ma’ruf nahy munkar lebih
ditafsir sebagai upaya mencari kebenaran dengan kekerasan. Suatu tindakan
yang mengingatkan kembali pada kelompok Khawarij yang muncul pada awal-awal
sejarah Islam.

Fikih penggerebekan

Apakah boleh menggerebek dan merusak lokasi-lokasi kemungkaran? Syeikh
Ibrahim bin Amir al-Ruhaili dengan tandas mengatakan, tidak boleh! Bahkan
ini termasuk kemungkaran tersendiri. Mengubah kemungkaran dengan kekuatan
tangan merupakan hak waliyul amr (pemerintah). Tindakan melampaui batas yang
dilakukan sebagian orang terhadap tempat maksiat dengan menghancurkan dan
membakar, atau juga pemukulan, merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak
boleh dilakukan.

Para ulama telah sepakat masalah mengingkari dengan kekuatan tangan
merupakan hak penguasa. Sabda Nabi Muhammad, ”Barangsiapa melihat
kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak
mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya.”

Makna kemampuan dalam hadits ini, bukan seperti yang dibayangkan kebanyakan
orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh, tetapi kemampuan
syar’iyah. Yang berhak melakukan, orang yang punya kemampuan syar’iyah.
Yaitu, pengingkaran terhadap mereka tak akan menimbulkan kemungkaran lain.
Orang yang melihat pelaku kemungkaran hendaknya lapor ke polisi, atau para
ulama, atau dai, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang.
Dengan penyelidikan saksama akan dapat diatasi dengan cara yuridis.

Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab Al-Fatawa
Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’’l Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad
Al-Haram, kekerasan yang tak membuahkan kemaslahatan dan hanya melahirkan
yang lebih buruk tak boleh digunakan karena yang harus dilakukan adalah
dengan hikmah. Penghukuman hanya boleh dilakukan para penguasa. Manusia
biasa hanya bertugas menjelaskan kebenaran dan mengingkari kemungkaran.
Mengubah kemungkaran, lebih-lebih dengan tangan, ini dibebankan kepada para
penguasa. Merekalah yang berkewajiban mengubah kemungkaran sejauh kemampuan
karena mereka yang bertanggung jawab terhadap perkara ini.

Jika seseorang ingin mengubah kemungkaran dengan tangannya setiap kali
melihat kemungkaran, ini akan melahirkan kerusakan. Yang tepat, harus
mengikuti hikmah dalam perkara ini. Kata Syeikh Utsaimin, ”Anda bisa
mengubah kemungkaran di rumah yang di bawah kekuasaan Anda, tetapi mengubah
kemungkaran di pasar dengan tangan, bisa menimbulkan hal yang lebih buruk
daripada kemungkaran tersebut. Dalam kondisi seperti ini, hendaknya Anda
menyampaikan kepada yang mempunyai kemampuan untuk mengubah kemungkaran di
pasar.”

Hukum yang benar—menyitir Muhammad al-Ghazali, tokoh Ikhwanul Muslimin
Mesir—mesti jadi sarana dakwah Islam, bukan sebagai penopang fatwa-fatwa
parsial yang justru membuat orang-orang Islam sendiri yang berbuat dosa dan
maksiat lari dari tobat dan hidayah. Fatwa sebagai salah satu produk hukum
sesungguhnya tidak mempunyai kekuatan yang mengikat (ghairu mulzimah).
Apalagi, fatwa yang menyeru pada terorisme, kekerasan atau pula aksi gerebek
dan main hakim sendiri jelas akan berbenturan dengan nilai-nilai universal
Islam (al-mashalih al’ammah) yang menjadi tujuan ideal syariat Islam
(maqashid al-syari’ah).

Walhasil, jelaslah hukum Islam telah mengatur segala tindakan secara bijak
dan elok. Prinsipnya, Islam melarang sikap semena-mena. Pada zaman
globalisasi ini, agama sudah sepatutnya mau hidup berdampingan dengan
realitas lain, dan Islam bisa menjadi agama yang ikut menegakkan kemanusiaan
di masa depan.

Said Aqiel Siradj Ketua Umum PBNU

~ by Roni on May 10, 2010.

One Response to “Kesalehan Vs Kemungkaran”

  1. Api hanya bisa padam dengan Air, bukan dengan Api lagi. Islam bukanlah agama dengan kekerasan, Islam rahmatan lil alamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: