Warisan Gus Dur

Warisan Gus Dur

Kompas, Sabtu, 2 Januari 2010 | 04:46 WIB

Oleh: Jaya Suprana

Gus Dur telah tiada. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang saya peroleh
dari sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai itu.
Dari Gus Dur, saya mewarisi wawasan kearifan mengenai makna kenegaraan,
keagamaan, dan kemanusiaan dalam hakikat yang murni dan sejati.

Saya terkenang bagaimana ketika menempuh perawatan hemodialisis akibat telah
mencapai tahap gagal ginjal terminal, Gus Dur tampak selalu segar bugar,
ceria, dan tetap bersemangat berkisah dirinya sempat resmi dituntut sebuah
ormas untuk diadili dengan tuduhan menghina agama Islam lewat pernyataan
bahwa Al Quran adalah kitab suci pornografis. Ketika saya menganggap tuduhan
itu tidak benar, Gus Dur malah dalam gaya biarnisme nakal membantah: ”Biar
saja, biar rame!”

Socrates

Gus Dur selalu mengingatkan saya kepada filsuf Yunani—tepatnya Athena—
tersohor, Socrates, yang—menurut Plato— gemar melontarkan komentar-komentar
humoristis yang sering keliru ditafsirkan sejumlah pihak tidak mau dan/atau
tidak mampu memahami kandungan makna yang sebenarnya amat luhur.

Kini telah disepakati bahwa Socrates salah seorang filsuf terbesar yang
pernah hidup di Planet Bumi ini dengan pengaruh signifikan terhadap
pemikiran peradaban dan kebudayaan Barat. Namun, pada masa hidupnya
menjelang akhir abad III sebelum Masehi, Socrates dicurigai, dicemooh,
dikecam, dan dihina sebagai insan eksentrik suka bicara ngawur. Bahkan,
akibat lontaran komentar yang keliru ditafsirkan, Socrates dituduh menghina
agama dan lembaga penguasa hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh dewan
juri pengadilan kota Athena pada tahun 399 sebelum Masehi.

Sementara itu, di Indonesia, pada tahun 2001 setelah Masehi, akibat berbagai
sikap, perilaku, dan komentar yang keliru ditafsirkan, Gus Dur memang tidak
dihukum mati, tetapi dipaksa lengser dari jabatan Presiden oleh MPR dan DPR
yang pada masa itu masih memiliki kekuasaan untuk dengan sangat mudah
melengserkan presiden.

Semasa hidup, Socrates dibenci kaum penguasa kota Athena sebab terlalu
lantang dan terlalu terbuka melempar kritik terhadap sikap dan perilaku
demokrasi semu pemerintah Athena. Demikian pula pada masa rezim Orde Baru,
Gus Dur juga dibenci mereka yang sedang berkuasa akibat ketua ormas Islam
terbesar di dunia ini berani mengkritik kediktatoran penguasa Republik
Indonesia. Begitu benci rezim Orba terhadap Gus Dur, sampai konon muncul
instruksi rahasia untuk—sama dengan Socrates—membunuh Gus Dur, tetapi—beda
dari Socrates—sebelum niat itu terlaksana, rezim Orba telanjur lengser.

Akibat aneka ragam komentar kontroversial, Socrates dibenci dewan perwakilan
warga Athena. Sama halnya dengan Gus Dur jahil menyamakan para anggota DPR
dengan murid TK sebagai penyulut sumbu kebencian DPR terhadap Presiden!

Plato

Di dalam apologi tersirat kekaguman Plato terhadap Socrates sebagai tokoh
yang berani menyatakan yang benar sebagai benar, yang keliru sebagai keliru,
dan berani mengambil langkah-langkah kontroversial demi mempersembahkan yang
terbaik bagi rakyat Athena. Sama halnya dengan para tokoh cendekiawan dan
budayawan nasional dan internasional yang kagum terhadap sosok Gus Dur yang
selalu gigih maju tak gentar menerjang kemelut deru campur debu bepercik
keringat, air mata, dan darah demi menegakkan kebenaran di bumi Indonesia.

Pada masa Orba, Gus Dur paling berani secara terbuka memprotes kezaliman
pemerintah. Hanya Gus Dur yang berani secara terbuka membela Arswendo
Atmowiloto ketika menjadi korban ketidakadilan. Hanya Gus Dur yang berani
membela kaum minoritas tertindas di Indonesia masa Orba kemudian setelah
menjadi Presiden nyata memperjuangkan hak-hak kaum minoritas!

Hanya Gus Dur yang sadar bahwa urusan sosial dan pers sebenarnya bukan
urusan pemerintah tetapi masyarakat sendiri, maka membubarkan Departemen
Sosial dan Departemen Penerangan. Namun— sama dengan nasib
Socrates—perjuangan Gus Dur membela kemanusiaan dan menegakkan kebenaran di
persada Nusantara sering tidak atau sulit dipahami masyarakat semasa hingga
sering keliru ditafsirkan sebagai ulah negatif bahkan destruktif. Cuap-cuap
Socrates menjengkelkan kaum penguasa kota Athena, sementara ceplas-ceplos
Gus Dur ketika menjadi Presiden sangat ditakuti pimpinan Bank Indonesia
sebab dianggap rawan mengguncang stabilitas moneter dan ekonomi nasional!

Sama dengan Socrates, Gus Dur semasa menjadi Presiden dituduh eksentrik,
ngawur, bahkan membahayakan negara dan bangsa hingga akhirnya—meski tidak
dibunuh seperti Socrates—dilengserkan dari jabatan kepala negara! Gus Dur
layak masuk MURI sebagai orang yang paling sering dikelirutafsirkan,
terbukti namanya saja sering disebut ”Pak Gus Dur” akibat keliru tafsir
bahwa ”Gus Dur” sebuah nama, padahal istilah ”Gus” sebenarnya sebutan dialek
Jawa Timur berbobot sudah sama terhormat dengan ”Pak”.

Warisan pesan

Dalam salah satu perjumpaan terakhir dengan sahabat dan mahaguru yang sangat
saya hormati, kagumi, dan cintai, saya sempat bertanya mengenai apa
sebenarnya yang keliru pada bangsa dan negara Indonesia pada masa kini. Gus
Dur menghela napas sejenak lalu berkisah sebuah hadis Al Sukuni meriwayatkan
dari Abu Abdillah Al Shadiq, ”Ketika Nabi Muhammad SAW menyambut pasukan
sariyyah kembali setelah memenangkan peperangan, Beliau bersabda: ’Selamat
datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil tetapi masih
harus melaksanakan jihad akbar!’ Ketika orang-orang terheran-heran lalu
bertanya tentang makna sabda itu, Rasul SAW menjawab: ’Jihad kecil adalah
perjuangan menaklukkan musuh. Jihad akbar adalah jihad Al-Nafs, perjuangan
menaklukkan diri sendiri!”

Terima kasih dan selamat jalan, Gus Dur!

Selamat berjuang, bangsa Indonesia!

Jaya Suprana Sahabat dan Murid Gus Dur

~ by Roni on April 20, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: