Sebuah Perspektif Nasi Tumpeng

Sebuah Perspektif Nasi Tumpeng

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Seorang ibu dari Semarang punya kasus lucu. Setiap tahun ia mendapat
undangan ke Istana Merdeka, mungkin sebagai pahlawan (yang masih hidup),
atau keluarganya. Mungkin juga karena sebab lain. Nah tahun 1981 ia
membungkus nasi tumpeng buatan istana dan menympiannya di rumah—hingga hari
ini. Para tetangga tertawa melihat ia menjemur nasi sebungkus itu hingga
kering. Biarlah, katanya, yang penting tumpeng sebungkus itu membawa rezeki.

Nasi tumpeng memang punya fungsi bermacam-macam. Ada yang memperlakukan
sebagai sesajen, di masa lalu—juga kini, bagi yang percaya. Di sinipun
terbagi dua maksud sesajen itu. Ada yang menganggapnya hanya sebagai
persembahan simbolis, dengan “aturan” sang penunggu tidak menyentuhnya sama
sekali. Langsung sesajen itu “dikembalikan kepada masyarakat” – siapapun
dapat terus memakannya. Adapula yang menganggap tumpeng benar-benar
memperoleh “kontak fisik” dengan roh halus, dan karenanya lalu memperoleh
kekuatan supernatural tersendiri. Hanya beberapa orang tertentu yang boleh
makan. Yang lain boleh menyimpannya menjadi jimat, seperti dalam kasus ibu
dari Semarang itu.

Lambat laun, dengan datangnya agama-agama besar kemari, hal-hal seperti
tumpeng sebagai sesajen lalu mengalami perubahan. Tidak lagi memiliki arti
magis dan supranatural, melainkan “diturunkan derajatnya” setingkat menjadi
“misteri”. Kiai Sekati atau Gong Keraton diarak pada upacara tertentu dan
tumpeng turut pula dipersiapkan- mungkin kecil saja, mungkin sebesar bukit.
Bagi sebagian orang yang turut memperebutkannya, ia memiliki kekuatan magis.
Tetapi bagi yang mempersiapkan, ia mengandung misteri tanpa magis. Misteri,
karena menjadi bagian dari upacara penegakan wibawa sang Ratu, bukti
keampuhan Sang Nata.

Sekarang ini, ketika budaya pariwisata sudan menjadi bagian peradaban
modern, tumpeng baralih fungsi lagi- menjadi eksotika, bagian dari “kekayaan
tersembunyi” yang patut diperlihatkan kepada para wisatawan. Tumpeng
disekluerkan menjadi bagian transaksi komersial belaka. Bersama dengan itu,
nasi tumpeng itu juga mengalami “pergeseran historis” lain- menjadi bagian
neofeodalisme yang muncul di kalangan atas, yang terangsang “melestarikan
kebudayaan asli” kita. Di pesta-pesta perkawinan, upacara pembukaan proyek
baru, pesta kenegaraan, dan seterusnya, tumpeng memang tidak magis, tidak
memiliki misteri, tapi berperan simbolis juga.

Di tempat lain, jelas bukan di Semarang, seorang mubalig melabrak nasi
tumpeng. Diharamkan- karena ia adalah sesajen kaum yang tidak punya tauhid,
tidak percaya pada keesaan Tuhan. Ia bagian dari kemusyrikan yang menganggap
adanya banyak Tuhan. Tumpeng harus dijauhi. Penerimaan atasnya menunjukkan
kelemahan iman kita. Maka, di satu pihak, tumpeng diminta lestari
kehadirannya. Sedang di pihak lain diminta untuk dijauhi. Mengapa hal-hal
seperti itu tetap menjadi masalah? Jawabnya: perbenturan budaya antara
proses islamisasi dan proses penemuan identitas diri sebagai bangsa. Di satu
pihak, islamisasi berjalan pesat, walau dalam wajah yang tidak sama dan
intensitas yang berbeda-beda. Kesadaran ber-Islam makin hari makin
menampakkan bentuk nyata.

Ada sektor yang menampakkan wajah kemanusiaan, mendorong munculnya humanisme
baru di dunia ini, yang tidak lepas dari wawasan kerohanian, seperti
terlihat dalam pergolakan pemikiran keagamaan. Ada yang menampilkan wajah
kemelut tak kunjung usai, seperti di bidang politik. Ada pula yang
memunculkan wajah “bengis”: koreksi total, transformasi penuh, realisasi
ajaran agama secara tuntas, Islam sebagai alternatif, dan segerobak istilah
lain yang digunakan untuk memberi nama proses islamisasi dalam bentuk
terakhir itu.

Di pihak lain, integrasi nasional dijalani dengan susah payah. Melalui
“humanisme liberal” di bidang budaya ia berjalan tersendat-sendat, karena
tidak memperhitungkan hukum “siapa kuat, ia menang, dan mengambil
segala-galanya kalau menang”. Reaksi baliknya adalah gerakan separatis di
tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Ketika era pembangunan datangm
prioritas utama secara alami adalah penanganan masalah integrasi nasional
itu. Dari unifikasi system komunikasi melalui satelit domestik Palapa hingga
rentetan santiaji dan penataran P4, energi bangsa banyak sekali dicurahkan
kepada pemantapan proses itu—yang menonjolkan upacara perkawinan adat begitu
mewah sebagai “mode masa kini” sebagai salah satu manifestasinya. Dan sudah
tentu juga : nasi tumpeng.

Dalam pelestarian nasi tumpeng sebagai bagian pelestarian “budaya luhur”
bangsa itu, dengan sendirinya tidak terhindarkan lagi turut dilestarikannya
beberapa orientasi semula. Misalnya, masih adanya aura misteri nasi tumpeng
itu sendiri sebagai “makanan yang tidak biasa, mengandung arti kerohanian”.
Tapi, itupun hanya di kalangan kecil. Perbenturan itu sendiri antara
islamisasi dan integrasi nasional, hanyalah bagian dari perjalanan sejarah
yang panjang. Bukan pertanda datangnya kiamat, tetapi juga bukan sesuatu
yang harus diabaikan sama sekali. Harus ditangani tetapi dalam ukuran
proporsional. Menurut hemat penulis, penanganannya adalah bentuk meyakinkan
dari sang mubalig—bahwa munculnya nasi tumpeng bukan berarti lunturnya
keimanan kita, melainkan hanya bagian dari proses integrasi nasional yang
alami itu.

Sekali integrasi tercapai dalam bentuk mapan, Islam juga yang mengambil
keuntungannya. Di pihak lain, bangsa ini secara umum harus memperoleh
informasi pula, bahwa “suara-suara sumbang” yang menuntut hilangnya nasi
tumpeng hanyalah sebagian dari proses islamisasi yang panjang. Di suatu
saat, Islam pun akan menerima nasi tumpeng tanpa merasa “terancam”.
Percayalah.

Jakarta 15 Oktober 1983

Penulis adalah ketua Dewan Syura PKB

~ by Roni on April 18, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: