Gus Dur Penerobos Bidang Kelautan

OBITUARI

Gus Dur Penerobos Bidang Kelautan

Sabtu, 2 Januari 2010 | 03:39 WIB

Jakarta, Kompas – Tidak saja seorang ulama besar, tokoh pejuang kemanusiaan,
dan tokoh politik, Abdurrahman Wahid juga penerobos pengelolaan laut
Indonesia ketika masih menjabat sebagai Presiden RI keempat. Tahun 1999, ia
mendirikan Departemen Eksplorasi Laut, cikal bakal Departemen Kelautan dan
Perikanan sekarang.

Menteri Eksplorasi Laut saat itu, Sarwono Kusumaatmadja, menyebut
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai sosok yang sangat menguasai sejarah
kemaritiman, jauh sebelum menjabat sebagai presiden. Dari penguasaan sejarah
itu lalu memunculkan pemahaman kewilayahan dan akhirnya tahu Indonesia
kurang memerhatikan masalah kelautan.

Karena itulah nama yang dipilih Departemen Eksplorasi Laut. ”Gus Dur
berhasil mengangkat isu kelautan ke permukaan karena nama itu. Waktu itu
sama sekali bukan arus utama,” kata Sarwono ketika dihubungi Jumat (1/1)
malam.

Saat departemen dibentuk, lanjut Sarwono, urusan kelautan RI hanya di
tingkat eselon dua atau direktur di bawah sebuah departemen. Itu pun
terpencar-pencar.

”Penggunaan nama eksplorasi laut menyadarkan semuanya dan berhasil memancing
kenyataan bahwa persoalan laut hingga saat itu ditelantarkan. Jalan
pikirannya memang kadang tidak lazim, tapi sering kali dia yang benar dan
dalam soal kelautan dia memang benar,” kata Sarwono.

Sejak itu, berbagai penelitian dan pengembangan sumber daya laut banyak
diungkap. Tahun 1999 pula, Direktorat Budidaya Perikanan di bawah Departemen
Pertanian bergabung di bawah Departemen Eksplorasi Laut.

”Karena keberanian Gus Dur, persoalan nelayan dan pesisir turut terangkat.
Dialah penyedia kendaraan menuju pengarusutamaan peran laut yang akhirnya
dibelokkan menjadi eksploitatif oleh generasi berikutnya,” kata Sekjen
Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik.

Bahkan, tahun 2006, setelah tak lagi menjabat sebagai presiden, Gus Dur
membantu langsung kesulitan nelayan tradisional Bengkalis, Riau, yang
mengeluhkan kebijakan penggunaan jaring batu yang hanya menguntungkan
pengusaha besar. Tak hanya menerima nelayan di Kantor Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Dur pun bertindak.

”Gus Dur menemui langsung Presiden Yudhoyono dan akhirnya Gubernur Riau
mencabut kebijakan itu,” kata Riza yang turut mendampingi nelayan waktu itu.

Ide brilian

Menurut Riza, pendirian departemen yang mengurusi laut Indonesia merupakan
ide brilian. Dua pertiga luas kedaulatan Indonesia merupakan perairan laut
dengan sumber dayanya yang melimpah.

”Ide itu berdampak besar, yang sebelumnya hanya didengung-dengungkan
Indonesia sebagai negara agraris. Kenyataannya, berjuta-juta warga hidup di
kawasan pesisir,” katanya.

Berbagai data menunjukkan, perairan Indonesia merupakan rumah bagi spesies
biota laut penting bernilai ekonomi tinggi, di antaranya lokasi pemijahan
ikan tuna, enam dari tujuh penyu ada di Indonesia, rumput laut kelas dunia,
dan ratusan jenis ikan hias ada di sana.

Karena kekayaan itu, tak sedikit nelayan dari negara lain mencuri kekayaan
laut Indonesia. Peneliti-peneliti laut pun beberapa kali dipergoki meneliti
secara tersembunyi biota laut Indonesia.

Menurut Sarwono, peran Gus Dur sangat besar dalam mengembangkan perhatian
terhadap laut Tanah Air. Ia melanjutkan beberapa perjuangan yang telah
dilakukan tokoh seperti Ir Djuanda dan negosiator hukum laut internasional,
Mochtar Kusumaatmadja (alm) serta Hasjim Djalal.

”Kalau saja departemen kelautan tidak didirikan, kesadaran kemaritiman dan
kelautan Indonesia sangat susah bangkit. Gus Dur memahami betul masalah
itu,” kata Sarwono.

Kontribusi budaya

Budayawan Radhar Panca Dahana, secara terpisah, mengatakan, Gus Dur tidak
hanya pada masa menjadi presiden memberikan perhatian luas kepada dunia seni
dan kebudayaan, tapi sejak awal tahun 1980-an. Pada masa itu, dunia seni dan
kebudayaan sebenarnya mendapatkan jenderal baru, yang dengan senjata
kata-katanya, rajin memperjuangkan posisi seni dan kebudayaan.

”Sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur berperan kuat mengusik
kesenian untuk tidak asyik—sekaligus membusuk—di dalam tempurung egoismenya
sendiri,” kata Radhar.

Seniman Butet Kertaredjasa menilai Gus Dur menjaga nilai kemajemukan yang
otomatis menjaga nilai kebhinnekaan.

”Pada era Gus Dur seni budaya berkembang tanpa ada lagi yang dilarang. Ia
juga pemimpin yang tidak antikritik. Suatu kali, ketika saya mementaskan
monolog dengan lakon ’Guru Ngambek’ pada Hari Pendidikan Nasional tahun
2001, ia bisa menerima kritik. Ia tidak marah,” kata Butet.

~ by Roni on April 18, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: