Sanggupkah Kita Mengabdi Pada Kemanusiaan?

Sanggupkah Kita Mengabdi Pada Kemanusiaan?

Rabu, 10 Desember 2003

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Ketika berkunjung ke Belanda, Senin (8/9/2003) lalu, penulis menuju ke kota
Kampen di utara negeri Belanda dengan tujuan ke sebuah restoran di kota
kecil itu, guna menghormati pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh
Yayasan Kolff. Prof. Dr. Kolff yang namanya dijadikan nama yayasan tersebut
dan kini tinggal di Cleveland (AS) itu- adalah seorang Belanda yang hidupnya
diabdikan kepada kemanusiaan: membuat organ-organ sintetis/buatan untuk
menolong manusia. Pada Perang Dunia (PD) II, ia memulai pengembangan jantung
buatan (artificial heart) di Negeri Kincir Angin tersebut. Hal itu
diteruskannya seusai PD II, hasilnya seorang wanita berjantung cangkokan
berhasil “diselamatkan” dan selama delapan tahun berikutnya mampu
menggunakannya dengan baik. Namun, si wanita berjantung cangkokan tadi
menceraikan suaminya dan ternyata pada awal 1953 ia dipenjara karena menjadi
mata-mata NAZI. Ia meninggal dunia dalam proses pengadilan atas dirinya.

Kemudian Prof. J. Van Noordwijk, mengembangkan ginjal cangkokan (artificial
kidney), yang menjadi “paten” -nya hingga saat ini. Ia adalah teman karib
Prof. Kolff dan hidup hingga umur 80-an. Ternyata Kolff tidak kerasan hidup
di negeri kincir angin tersebut dan pindah ke AS. Di sana ia mulai
mengembangkan mata buatan (artificial eye), bersama-sama dengan Dobell, ahli
teknik yang tinggal di Lisabon (Portugal). Setelah Dobell dipotong kakinya
karena penyakit gula beberapa tahun lalu dan kini sedang sekarat, maka
temuan-temuan Dobell itu diserahkan pada Universitas Ohio di AS, secara
bersama-sama dengan temuan Kolff. Kolff sendiri tidak menghentikan
penelitian-penelitiannya, walaupun ia kini sudah berusia 92 tahun. Bahkan
karena tidak mau menghentikan penelitian-penelitiannya, sang istri yang
hampir seusia itu, meminta dicerai Kini mereka berpisah, sehingga Kolff
dapat melanjutkan penelitianya tersebut. Hasil penemuan Kolff itu oleh Dr.
Antonez diterapkan dalam praktek atas para pasiennya.

Apa yang diperlihatkan oleh “kegigihan” kedua orang peneliti di atas,
merupakan bukti bahwa ketegaran mengadakan penelitian dan pengembangan masih
dilanjutkan orang hingga saat ini. Tokoh-tokoh tersebut adalah Antony Van
Leeuwenhoek yang mendapatkan kuman-bakteri dalam penelitian-penelitian yang
dilakukannya beberapa abad yang lalu atau kedua bersaudara Wright yang
menemukan pesawat terbang pada awal abad yang lalu, dalam
percobaan-percobaan “aero-dinamika” yang mereka lakukan. Semangat yang
mereka perlihatkan itu sebagaimana juga dipertontonkan para penemu di atas,
adalah contoh dari kegigihan orang untuk mengabdi kepada kemanusiaan.

Makan malam tahunan untuk menghormati semangat Prof. Kolff di atas, adalah
upaya-upaya keluarga dan kawan-kawannya untuk melestarikan sumbangannya yang
sangat besar bagi pengabdian kemanusiaan yang diyakininya. Upacara sangat
sederhana untuk memuji semangat agung seperti itu terasa sangat membekas
bagi penulis, yang jarang melihat pengabdian kemanusiaan demikian gigih
seperti itu. Penghargaan yang diterima Kolff itu memang sudah layak
diberikan, karean itu merupakan penghargaan kepada semangat mengabdi kepada
kemanusiaan, yang terdapat dalam sejarah umat manusia di berbagai bidang
kehidupan.

*****

Lalu, bagaimanakah halnya dengan sejumlah orang penemu “teknologi terapan”?
Beberapa negara menyediakan hadiah dan dana bagi penelitian dan penemuan di
berbagai bidang. Di samping negara, dunia usaha juga tercatat sebagai
pengguna teknologi baru dalam perebutan pasar yang sangat sengit. Selama
bertahun-tahun Jepang mengarahkan para penemuannya ke arah pencarian model
dan teknologi baru di hampir semua bidang. Tidak heranlah jika kemudian
usaha-usaha Jepang seperti Panasonic dan Sony dalam bidang elektronik, serta
Fuji dalam optika membawa negeri Sakura itu ke jenjang tertinggi, alias
menjadi Negara nomor satu dalam bidang tersebut di pasaran dunia. Namun hal
itu justru membuat Jepang “tertinggal” oleh negara-negara AS dan Negara
Eropa Barat dalam pengembangan teknologi terapan, yang ditunjukan dengan
banyaknya temuan-temuan teknologi terapan di negara-negara tersebut.

Hadiah Nobel untuk kimia, fisika dan kedokteran tidak pernah didapat Jepang,
walaupun setelah bertahun-tahun menghabiskan sangat besar dana penelitian
dan pengembangan teknologi terapan (applied technology) itu. Memang Jepang
dalam jangka pendek sanggup mengejar ketertinggalan di bidang itu, tetapi
dalam pengembangan teknologi umum hampir-hampir tertinggal dan tidak dapat
mengejar. Baru tahun lalu, Jepang dapat mengejar ketertinggalan mereka
secara sedikit, ketika seorang teknolog Jepang di sebuah perusahaan dan
seorang Profesor bersama memenangkan hadiah Nobel untuk bidang fisika,
dengan “hanya” memenangkan hadiah itu dalam bidang “teknologi murni” yang
tidak ada hubungan secara langsung dengan produk-produk terapan apapun.
Apakah itu akan berarti munculnya pendekatan ilmiah yang baru di Jepang? Ini
masih merupakan tanda tanya besar. Sedangkan kecakapan “melempar”
produk-produk teknologi terapan itu, harus ditentukan oleh para pengarah
ekonomi Jepang pada umumnya.

Sangat mengherankan, sikap Jepang dalam pengembangan teknologi tersebut.
Dengan gigih, rakyat negeri Sakura itu berada di belakang para ahli moneter
mereka, seperti Sakakibara dan Koruda untuk melawan para “penentu kebijakan”
di lingkungan Dana Moneter Internasional/IMF (International Monetary Fund),
yang selalu memerankan kepentingan sejumlah negara yang kaya raya atau
perusahaan-perusahaan raksasa seperti International Business Machine (IBM).

Setelah menguasai beberapa bidang teknologi dan membanjiri pasaran dunia
yang terkait dengan produk-produk negeri Sakura itu, maka perusahaan raksasa
AS itu berhasil mengisolir Jepang . Inilah yang membuat para penentu
kebijakan ekonomi dan industri di Jepang memulai upaya “banting setir”
mereka di bidang “teknologi murni” (pure technology) tersebut. Apakah ini
akan berlanjut menjadi “perang tanding” di bidang teknologi pada umumnya,
antara Jepang di satu pihak dan AS plus Eropa Barat di masa depan, masih
belum kita ketahui saat ini. Namun menjadi jelas bahwa pengembangan
“teknologi murni” oleh sebuah masyarakat, dapat berhadapan dengan
pengembangan “teknologi terapan” dalam sekala besar.

*****

Sudah tentu, masyarakat atau negara sedang berkembang (developing country
and society) saat ini hanya dapat bersikap “bengong saja”, tanpa dapat
mengambil inisiatif apa-apa. Untuk sementara ini, mereka hanya dapat membeli
produk-produk berkualitas rendah dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang
juga membanjiri pasar dunia. Namun, penambahan pendapatan per-kapita
rata-rata pertahun (average per capita annually) RRT, mengharuskan mereka
untuk segera mengambil keputusan mengenai pilihan teknologi tersebut dalam
waktu dekat ini. Ini berarti semakin menciutnya peranan absolut dari pasar
dalam negeri yang terikat dengan pemenuhan pasar yang ada dengan
barang-barang yang murah itu, dan bertambah mekarnya produk-produk
berkualitas tinggi. Ini ditunjukkan dengan kegagalan produk-produk RRT
merebut pasar sepeda motor dan elektronik di negara-negara ASEAN, alasan
utamanya selalu hanya satu, kualitas rendah!

Jika pilihan dalam memproduksi barang-barang dengan menggunakan teknologi
-dikaitkan pula dengan semakin bertambah besarnya kesadaran untuk melakukan
barter antara negara-negara berkembang sesuai dengan kebijakan PM. Thailand
Thaksin Shinawatra-, maka akan tampak betapa besarnya keputusan yang harus
diambil mengenai penggunaan teknologi di masa depan, baik itu “teknologi
murni” atau “teknologi terapan”. Pilihan teknologi yang diambil itu akan
menentukan jenis industri yang akan dikembangkan melalui sebuah sistem
ekonomi. Berarti ada pilihan demi pilihan teknologi yang ditawarkan oleh
negara-negara ekonomi maju yang baru. Walaupun pada saat ini Indonesia masih
berada dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, tapi sebentar lagi ia akan
menjadi sebuah negara dengan “kebangkitan ekonomi” (new economic countries).
Hal itu akan terjadi, karena penulis percaya dan yakin, Indonesia akan mampu
sebentar lagi membenahi KKN dan mengatur sumber-sumber alam yang dimilikinya
(hasil hutan, hasil tambang dan eksploitasi kekayaan laut).

Kita akan menerima investasi/penanaman modal luar negeri, yang akan masuk
dalam jumlah besar, jika kita dapat membenahi kepastian hokum (legal
certainty) melalui perubahan dalam pelaksanaan Undang-Undang yang baru –yang
menurut penulis akan terjadi setahun dua tahun lagi. Karena para investor
ingin menanamkan modal di Indonesia , dan turut mengolah hasil-hasil dan
sumber-sumber alam itu melalui cara yang benar, maka masa depan industri di
negara kita juga sangat baik prospeknya. Inilah yang membuat mengapa penulis
mengemukakan keharusan memilih antara “teknologi terapan” di hadapan
perkembangan secara cepat dari teknologi murni. Pilihan berat yang harus
dilakukan, karena itu menyangkut masa depan kita sebagai bangsa dan negara.
Akankah kita menjadi seperti RRT yang mengembangkan pasar dunia serba
terbatas dengan produk-produk berkualitas rendah, ataukah seperti Taiwan
dengan produk-produk berkualitas tinggi yang semakin lama semakin membesar
pasarnya? Sesuatu yang mudah dikatakan, namun sulit untuk dilaksanakan
bukan?

Jakarta, 15 September 2003

~ by Roni on April 13, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: