Saddam Hussein dan Kita

Saddam Hussein dan Kita

Jumat, 4 April 2003

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Dalam sebuah wawancara televisi, penulis mengemukakan bahwa banyak hal yang
dilupakan Presiden Amerika Serikat, George W Bush Junior, mengenai Presiden
Saddam Hussein dari Irak. Bush beberapa kali mengatakan, bahwa tujuan
Amerika Serikat melakukan penyerangan berulang kali, untuk menangkap Saddam
Hussein yang dianggapnya menjadi penyebab terorisme bersimaharajalela di
dunia saat ini. Jadi, ia merasa berkewajiban menangkap Saddam Hussein untuk
menegakkan pemerintahan yang kuat dan demokratis di Irak.

Untuk tujuan itulah ia menyerang Irak secara besar-besaran. Bukan hanya
sekadar bom yang dijatuhkan seperti hujan, melainkan juga dengan serangan
seperempat juta orang bala tentara dari utara dan selatan, ditambah 40.000
orang prajurit Inggris. Ini berarti rangkaian serangan dalam ukuran perang
sebenarnya.

Dilihat dari rencana semula, serangan itu seharusnya berakhir dengan
kemenangan mutlak dalam waktu paling akhir 3 hari. Tetapi ternyata, setelah
13 hari serangan — ketika tulisan ini dibuat —, Saddam Hussein belum juga
tertangkap. Sedang jumlah korban jiwa dan harta benda dalam satuan-satuan
tempur pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat maupun kerugian material
lainnya telah menimpa Amerika Serikat dan sekutunya dalam jumlah sangat
besar, termasuk di dalamnya tank-tank dan senjata berat yang terkubur di
gurun pasir.

Ini belum lagi termasuk sikap negara-negara Arab lainnya (di luar Kuwait),
yang justru cenderung bersikap netral dalam sengketa tersebut. Di satu
pihak, Bush Jr, tidak mengindahkan keputusan Dewan Keamanan PBB, sehingga
serangan yang dilakukannya seperti tidak memiliki legitimasi internasional,
sedang serangan atas Irak, merusak kehormatan nasional yang dimiliki
negara-negara Arab lainnya.

Di samping hal-hal di atas, serangan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya
itu juga dilihat sebagai serangan terhadap Islam. Umat Islam di seluruh
dunia menyesalkan hal itu, apapun sebab, alasan dan argumentasi untuk
mendukung sikap menolak serangan itu. Megawati Soekarnoputri yang tidak mau
mengutuk serangan tersebut, dianggap oleh banyak kalangan gerakan Islam di
negeri kita, sebagai tidak membela Islam dari serangan (invasi) atas sebuah
bangsa Muslim seperti Irak. Bahkan banyak demonstrasi yang menuntut agar
hubungan diplomatik RI-AS diputuskan saja, sedang produk-produk AS di boikot
oleh kaum Muslimin. Sebuah sikap konfrontatif yang sebenarnya jarang
diperlihatkan oleh gerakan-gerakan Islam, di manapun ia berada.

Sebab utama dari reaksi seperti itu adalah inkonsistensi pernyataan Presiden
AS George W Bush Jr, tentang hakikat serangan AS atas Irak. Awalnya ia
mengemukakan serangan itu dilakukan guna mencegah malapetaka bagi dunia,
karena Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal dalam jumlah yang
besar yang ditemukan. Ternyata belakangan diketahui, senjata-senjata itu
justru dahulu diberikan AS kepada Saddam Hussein untuk menyerang Iran. Ini
berarti AS ikut membuat senjata-senjata tersebut di masa lampau, dan
sekarang cuci tangan dari kesalahan tersebut.

Dalam kesempatan lain, Bush mengatakan bahwa Saddam adalah “tokoh jahat”
(Evil Fiqure)” yang harus dilenyapkan karena melanggar hak-hak asasi
manusia. Mengapa hanya Saddam Hussein? Bukankah ada sebuah negeri di Timur
Tengah yang setiap tahun menembak mati para warga negaranya, hanya karena
mereka dianggap menjadi oposan politik bagi para penguasa negeri?

Kalau memang Bush benar-benar ingin membela demokrasi, tentunya ia harus
mulai dengan benua Amerika sendiri, masih ada negara-negara otokrasi di
benua tersebut, seperti Guatemala. Bahwa ini tidak diperbuat Bush Jr, sangat
mengurangi kredibilitas ungkapannya itu, hingga dapat dikatakan sebagai
argumentasi kosong, pernyataan tersebut tidak punya arti apa-apa dan dengan
demikian tidak menyakinkan siapapun.

Karena itulah terjadi demonstrasi besar-besaran di seluruh dunia, apalagi di
kalangan bangsa-bangsa muslim. Walaupun penulis sendiri dianggap sebagai
“moderat”, namun penulis tidak dapat menerima serbuan itu sebagai sebuah
langkah yang tepat. Baik secara militer maupun menurut diplomasi, langkah
itu adalah sebuah tindakan gegabah dari sebuah negara adikuasa atas negara
lain yang lemah.

Lebih-lebih lagi, Bush Jr sama sekali “melalaikan” perhitungan tujuan
perangnya, yaitu menangkap Presiden Irak, Saddam Hussein. Maka jika dalam
waktu tiga bulan Saddam Hussein tidak tertangkap, haruslah dilakukan
penyelesaian damai. Sangat sulit untuk menangkap Saddam Hussein, karena
hubungan yang sangat baik dengan suku-suku Arab yang berpindah-pindah tempat
(nomaden) di Irak, Jordania, dan Syria. Mungkin Saddam Hussein akan
mengulangi tindakannya dalam pertengahan abad lampau, ketika ia melarikan
diri karena diancam hukuman mati di Irak pada pertengahan abad lalu. Dengan
hubungannya yang sangat baik itu, Saddam dilindungi oleh suku-suku (qabilah)
dari berbagai negara, sehingga ia sanggup berjalan kaki dan naik unta sejauh
lebih dari 2.000 km untuk mencapai Mesir di bawah pahlawan Gamal Abdul
Nasser.

Karena itulah, penulis mengatakan dalam wawancara dengan TV7, bahwa
jangan-jangan diktum Von Clausewitz: “perang adalah penerusan perundingan
damai yang gagal” harus dilaksanakan secara terbalik dalam kasus Irak.
Yaitu, perundingan damai adalah kelanjutan dari perang yang tidak mencapai
tujuannya, ini akan terjadi, kalau dalam tiga bulan pasukan-pasukan AS –
Inggris tidak berhasil menangkap Saddam Hussein. Karena rakyat AS tentu
menuntut melalui demonstrasi besar-besaran agar pasukan AS di tarik dari
Irak. Perundingan tersebut diperlukan untuk “menolong muka” AS. Hal ini juga
penulis sampaikan kepada Duta Besar Australia di sebuah tempat lima hari
setelah itu, di depan para stafnya.

Menjadi jelas dari uraian di atas, bahwa pengenalan mendalam atas sebuah
kawasan sangat diperlukan jika ingin diambil tindakan militer atasnya. Dan
pengenalan kawasan itu harus disertai pertimbangan objektif yang justru
sangat diabaikan oleh Presiden Bush Jr. Arogansinya yang timbul dari
pengetahuan, AS adalah satu-satunya negara adikuasa yang dapat “mengalahkan”
negara manapun menutupi kenyataan, bahwa serangan militer itu dilakukan
karena pertimbangan-pertimbangan geopolitis, bukan pertimbangan moral.
Menurut “ketentuan” Bush Jr, geopolitis Irak sebagai penghasil minyak kedua
terbesar di dunia, dengan 116 miliar barel atau sekitar separuh dari
produksi Saudi Arabia sebagai penghasil minyak terbesar di dunia haruslah
“dikembangkan” sebagai imbangan, karena Saudi Arabia dewasa ini menyimpang
dari kebijaksanaan luar negeri AS. Ditambah lagi, karena Irak saat ini mulai
menggunakan mata uang masyarakat Eropa, Euro dalam menyelesaikan transaksi
minyaknya.

Keterusterangan pihak AS dalam menggunakan pertimbangan-pertimbangan
ekonomis ini, haruslah disampaikan oleh Bush Jr, setidak-tidaknya melalui
berbagai lembaga-lembaga non-pemerintahan di negeri Paman Sam itu. Tindakan
menutup-nutupi berbagai pertimbangan geopolitis dan finansial itu hanya akan
mengurangi kredibilitas AS saja. Hilangnya kredibilitas itu akan memaksa
negara tersebut, menggunakan kekuatan militer dalam hubungan dengan
negeri-negeri lain. Menjadi teladan bagi kita, bahwa mengendalikan sebuah
negara adikuasa tidaklah mudah, melainkan membutuhkan kemampuan bersabar dan
sikap tidak memandang rendah orang lain. Apalagi hanya mendengarkan suara
kelompok-kelompok garis keras belaka. Tidak mudah menjadi pemimpin dunia,
bukan?

Kendal, 3 April 2003

~ by Roni on April 9, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: