NU Dan “Tafsir Baru”

NU Dan “Tafsir Baru”

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Kamis, 29 Juli 2004

Dalam mendalami Al-qur’an, kita harus selalu menggunakan berbagai kitab
tafsir. Ada ‘Tafsir Thabari’, sebanyak 30 juz yang dibuat dalam abad ke 2 -3
Hijriyah, berisi uraian lengkap mengenai kandungan kitab suci tersebut.
Kemudian Kitab ‘Tafsir Al-Maraghi’, yang ditolak oleh Rais ‘Aam Nahdlatul
Ulama (NU) almarhum KH. A Wahab Chasbullah dari Tambak Beras, Jombang, dalam
Muktamar NU ke-26 di Surabaya pada penghujung tahun 1971, karena dianggap
‘barang baru’ yang belum pernah di-sahkan (mu’tabar) di kalangan para ulama.
Juga kitab tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh almarhum Syekh Al-Azhar yang
terbit pada tahun 1935 itu, dalam pandangan beliau tidak termasuk dalam
jajaran kitab-kitab NU yang mu’tabar (diakui) oleh para ulama, sehingga
tidak dapat dipakai sebagai rujukan dalam sebuah Muktamar NU, entah hingga
kapan. Dan bagaimana dapat mencapai ‘status’ diakui tersebut, juga tidak
diterangkan lebih lanjut. Maka, seharusnya-lah Pengurus Besar Syuriah
Nahdlatul Ulama (NU) membuat daftar rujukan tersebut.

Saat ini pun penulis berupaya untuk memahami kitab suci itu, namun tidak
dibarengi dengan menulis ‘kitab tafsir’, melainkan hanya memberikan tafsiran
ayat-ayat yang berisikan firman Allah Swt secara sporadis (acak), yang
disampaikannya dalam ceramah/pengajian umum di tempat-tempat yang
berbeda-beda pula. Di samping itu, ‘tekanan pekerjaan’ tidak memungkinkan
penulis untuk dengan cermat membaca kitab suci tersebut dari permulaan
hingga ujung secara teratur, sebagai sebuah persyaratan bagi penulisan kitab
tafsir. Akibatnya, ‘sementara’ ini penulis hanya mengemukakan beberapa hasil
pendalamannya atas kandungan kitab suci tersebut, dalam beberapa buah
artikel yang dimuat oleh berbagai harian yang berbeda-beda. Diharapkan,
dalam jangka panjang, jumlah karangan tentang kitab suci itu sudah cukup
untuk diterbitkan dalam bentuk buku, dan sedikit kekurangannya akan dapat
‘ditambal’ sebelum buku itu diterbitkan.

Tentu saja, guna memungkinkan terpeliharanya persambungan dan ketaatan asas
dalam penulisan buku itu, diperlukan ‘kesetiaan dan ketaatan’ kepada sebuah
metode memahami kitab suci tersebut. Dalam hal ini, penulis mencoba memahami
kitab suci tersebut dari sudut pandang penafsiran ‘kehendak Tuhan’, berarti
sebuah pendekatan untuk upaya ‘memahami’ apa yang dimaksudkan Allah atas
sesuatu peristiwa masa kini (contemporer) yang terjadi pada sekitar masa
tulisan itu sendiri dibuat. Memang, pendekatan ini mungkin tidak ‘memuaskan’
siapapun, tetapi diperlukan penulis untuk dapat mengerti apa yang terjadi
pada suatu masa tertentu. Mungkin, seorang ahli tafsir (mufassir) akan dapat
melakukan abstraksinya atas apa yang terjadi pada suatu saat tertentu,
sehingga akhirnya ‘kitab tafsir’ seperti itu akan dapat dituliskan. Penulis
menamai kitab-kitab itu sebagai sebuah ‘tafsir baru’ yang diperkirakan akan
membentuk penafsiran-penafsiran tertentu.

Dalam pandangan penulis, ajaran-ajaran Islam dalam kitab suci tersebut, ada
yang bersifat makro yaitu mengenai keseluruhan masyarakat. Ini berarti,
diutamakan pendekatan yang bersifat kewajiban kolektif (fardlu ‘ain), yang
benar-benar diperhatikan oleh Islam. Ada pula yang dengan cara klasik –yaitu
segera tampak apa yang dimaksudkan. Contohnya, adalah surat Al-ma’un, yang
menunjukkan kepada kita bagaimana Islam menginginkan capaian bersama
secara/materi, di samping capaian spiritual. Ini dilakukan dengan
menyebutkan orang yang tidak mau mengurusi anak yatim maupun tidak
menyediakan makanan bagi orang miskin, sebagai pendusta yang membohongi
keyakinan, dan sembahyang atau sholatnya tidak diterima oleh Allah Swt
sebagai amal sholeh.

*****

Dalam bentuk lain yang lebih komplek, lebih jauh, pandangan makro itu
memerlukan juga penafsiran baru. Surah sebelumnya, Al –Quraisy dalam kitab
suci itu berbunyi; “Untuk mempersiapkan keberangkatan orang-orang Quraisy,
dalam perjalanan mereka di musim dingin maupun panas, maka hendaknya mereka
(melakukan hal itu) untuk menyembah/beribadat kepada Tuhan , yang memberikan
mereka makanan di kala lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Li ila
fi Quraisyin, iila fihim rihlata al-shita’I wa al-shaif falya’budu rabba
hadza al-baiti al-ladzi ath’amahum min ju’in wa amanahum min khauf).

Kita mengetahui bahwa firman Tuhan tersebut ‘mempunyai arti’ yang lebih luas
dari apa yang tersurat di dalamnya, dan inilah yang harus kita cari. Apa
yang harus kita cari itu, tentunya, adalah hasil penafsiran manusia juga,
yang mungkin salah, namun dapat juga memiliki kebenaran. Pemahaman seperti
inilah yang ‘dimaksudkan’ –yaitu pengertian makro- yang harus kita
kembangkan dalam memahami kandungan kitab suci tersebut. Pemahaman makro
itu, oleh penulis dimasukkan ke dalam ‘tafsir baru’, yang ingin
dikembangkannya.

Menurut pemahaman penulis atas Surah ini, adalah upaya mempersiapkan
‘perjalanan’ berdagang berarti juga segala bentuk kegiatan ekonomi yang
dilakukan manusia. Ini berarti, kerangka perdagangan internasional yang
bersifat lebih adil antara berbagai bangsa dan Negara di dunia ini.
Karenanya, ‘keadilan’ yang dibawakan dalam kerangka perdagangan
internasional haruslah mempertimbangkan faktor kemampuan yang berbeda-beda
antara berbagai bangsa satu dengan yang lain, dan ini harus menjadi
orientasinya.

Dengan cara apndang demikian, perdagangan internasional tidak hanya akan
bersifat materialistik belaka. Akan ada ‘semangat keadilan’ yang berkembang
di dalamnya. Menurut penulis, sisi keadilan ini sama pentingnya dengan sisi
materialistik dalam semangat perdagangan internasional. Kalau saja hal ini
diperhatikan, sudah akan lain kerangka perdagangan internasional yang akan
dikembangkan. Hanya saja, memang orientasi materialistik itu sangatlah
dominan dewasa ini, hingga ada anggapan bahwa ia adalah ‘orientasi’ yang
benar.

Dengan memahami kitab suci kaum muslimin itu, melalui tafsir baru yang akan
dikembangkan penulis, lalu kita tahu adanya perubahan orientasi perdagangan
internasional yang kita butuhkan dalam perniagaan antar-bangsa. Tentu saja,
tidak akan mudah merubah orientasi materialistik itu, untuk menjadi gabungan
antara materialisme sebagai kenyataan dan keadilan dalam perdagangan
internasional. Tapi, dengan menggunakan tafsir baru atas teks-teks kitab
suci, setidak-tidaknya kaum muslimin mengenal apa yang dinamakan
pendidikan-ulang (reedukasi) dalam orientasi perniagaan mereka.

*****

Nah, NU sebagai kelompok kaum muslimin terbesar di dunia saat ini, ‘harus’
menjalani reedukasi dalam berbagai bidang, termasuk bidang perdagangan,
sebagai bagian dari orientasi ekonomi yang diperjuangkan. Karena orang-orang
Barat terlanjur mengambil orientasi kehidupan yang hampir-hampir seluruhnya
materialistik, maka dari itu, persaingan di kalangan mereka bukan hanya
sekedar perbedaan kepentingan, melainkan perbenturan kehendak.

Ketika penulis sebagai Presiden RI, pernah didatangi oleh mantan Pembantu
Menlu AS urusan Asia dan Pacific, Winston Lord, yang diutus oleh (saat itu)
Presiden AS Bill Clinton, untuk sekedar menanyakan; benarkah kehendak
penulis akan kerjasama lebih erat antara Tiongkok, India dan Indonesia,
dimaksudkan untuk melakukan isolasi / pengucilan terhadap negara (AS)
tersebut? Penulis menjawab, dugaan itu tidak benar melainkan diinginkan
munculnya identitas-bersama antara negara-negara Asia untuk melakukan
persaingan yang kuat dalam niaga internasional terhadap orang lain. Jawaban
itu, membuat Gedung Putih menyatakan dukungan bagi gagasan tersebut, dua
hari kemudian. Dengan demikian, penulis mulai ‘memasukkan’ orientasi lebih
berkeadilan dalam tata niaga internasional. Hal ini bersesuaian dengan apa
yang menjadi keyakinan penulis sejak 20 tahun yang lampau, akan pemahaman
dan ‘penafsiran baru’ terhadap firman-firman Allah Swt yang diungkapkan
melalui kitab suci kaum muslimin tersebut.

Dari uraian di atas menjadi jelas, kaum muslimin ‘menanggung’ kewajiban
menciptakan keseimbangan: antara materialisme dan keadilan antar-negara,
atau antara kaum kaya dan kaum miskin. Melalui ‘kesadaran’ seperti ini, kaum
muslimin baru dapat meminta dari AllahSwt apa yang sering diucapkan sebagai
do’a: “Tuhan kami, berikanlah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
lindungilah kami dari api neraka” (Rabbana aatina fi al-dunya hasanatan wa
fi al-akhirati hasanatan waqina adzaba an-nar). Kewajiban ini juga berlaku
bagi warga NU, sesuatu yang mudah dikatakan, tetapi sangat sulit untuk
dilaksanakan, bukan?

Situgunung, 22 Juli 2004

~ by Roni on April 7, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: