NU dan Garasinya Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

NU dan Garasinya

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Keluarga Pak Nuas Waja merupakan keluarga desa yang cukup kaya. Di samping
rumah yang besar, keluarga ini memiliki sawah, kebun, peternakan, perahu
penangkap ikan, toko serba ada, dan masih ada kekayaan dan usaha yang lain.
Keluarga Pak Nuas Waja yang cukup banyak, tidak kesulitan menangani semua
harta dan usaha itu, meski pengelolaannya masih secara tradisional.
Masing-masing anggota keluarga, sesuai keahliannya diserahi dan
bertanggungjawab atas bidang yang dikuasainya. Ini menggarap sawah; ini
mengurus kebun; itu menangani toko; itu mengurus peternakan; demikian
seterusnya.

Masih ada satu usaha keluarga lagi yang dilakukan bekerja sama dengan
pihak-pihak lain. Yaitu, usaha transportasi. Tapi, karena waktu pembagian
keuntungan, dirasa kurang adil, akhirnya keluar dan mendirikan usaha
transportasi sendiri. Berhubung usaha ini baru bagi mereka, maka diajaknya
beberapa personil dari luar yang dianggap mampu dan mengerti seluk-beluk
transportasi. Ternyata, usaha baru ini meraih sukses yang luar biasa. Dari
empat besar perusahaan transportasi, perusahaan keluarga pak Nuas Waja yang
baru ini meraih peringkat ketiga. Dampak dari sukses besar ini, antara lain:
personil-personil dari luar yang ikut membantu–atau yang berjanji akan
membantu–menangani usaha ini pun menyatakan bergabung total sebagai anggota
keluarga. Pak Nuas pun tidak keberatan dan justru senang.

Dampak lain yang jauh lebih penting dan serius, ialah kemaruknya para
anggota keluarga terhadap usaha transportasi yang sukses besar ini. Setiap
hari sebagian besar mereka berjubelan di garasi; meskipun sebenarnya banyak
yang sekedar bermain-main klakson atau memutar-mutar stir mobil, karena
memang tak tahu apa yang harus mereka lakukan di garasi itu. Lama-lama,
mereka yang bertanggung jawab menggarap sawah, kebun, peternakan, toko, dlsb
pun tertarik dan tersedot ikut menjubeli garasi mereka. Sawah pun menjadi
bero, kebun tak terawat, toko tak ada yang menjaga, ternak-ternak pada mati,
perahu nganggur Bahkan, rumah sendiri sering kosong, banyak perabotan
diambil dan dibawa orang tak ada yang tahu. Halamannya kotor tak terurus.

Ketika penguasa negeri ganti dan mendirikan juga usaha transportasi sendiri,
keluarga Nuas Waja pun agak pusing. Soalnya cara berusaha penguasa baru ini
tidak lazim. Mereka menggunakan cara-cara makhluk rimba untuk memajukan
usaha mereka. Tak segan-segan mereka menggunakan tipuan dan kekerasan.Orang
dipaksa untuk menggunakan transportasi mereka; yang tidak mau, tahu rasa!

Namun, meski bersaing dengan usaha penguasa yang zalim begitu, usaha
keluarga Nuas Waja masih mampu bertahan, walau babak-belur. Bahkan perlakuan
penguasa itu justru semakin mengentalkan ‘fanatisme’ keluarga terhadap usaha
transportasi ini.

Akan tetapi, penguasa lebih pintar lagi. Dengan kelicikannya, orang pun
digiring untuk menyepakati aturan main baru yang agaknya sudah lama mereka
rencanakan di bidang transportasi ini. Aturan itu melarang orang berusaha
transportasi sendiri-sendiri di rumah. Mereka yang berusaha di bidang
transportasi harus nge-pol dan bergabung dalam salah satu dari tiga wadah
usaha yang sudah disiapkan. Akhirnya, keluarga Nuas pun bergabung dengan
beberapa penguasaha lain, sesuai arahan penguasa. Dan nasib seperti pada
masa lampau pun terulang kembali. Keluarga Nuas yang sahamnya paling besar,
justru waktu pembagian keuntungan selalu kena tipu dan rugi.

Maka, waktu ada gagasan dari sementara anggota keluarga untuk kembali saja
ke jati diri awal mereka, banyak yang mendukung gagasan itu, meskipun dengan
alasan yang berbeda-beda. Demikianlah, meskipun seperti malas-malas dan
terus menghadapi godaan untuk hanya mengurusi usaha transportasi, anggota
keluarga yang biasa menggarap sawah, mulai kembali ke sawah; yang biasa
mengurus kebun, kembali ke kebun; yang mengelola toko, kembali ke toko;
demikian seterusnya. Sementara itu, mereka yang sudah merasa mapan
menjalankan usaha transportasi, sesekali masih mencoba mencari kawan
pendukung.

Dunia selalu berubah. Beberapa waktu, setelah pemerintahan ganti lagi dan
usaha transportasi kembali bebas, keluarga Nuas Waja pun kembali terseret
arus pertransportasian yang kembali marak. Banyak keluarga yang dulu punya
usaha sendiri, beramai-ramai menghidupkan kembali usaha transportasi mereka.
Garasi pun dibangun dimana-mana. Dan keluarga Nuas Waja pun menghabiskan
enersi mereka untuk urusan garasi dan transportasi; termasuk mereka yang
busi dan dongkrak pun tak mengenalnya.

***

Mungkin saya terlalu sederhana, tapi tamsil di atas itulah yang selalu saya
gunakan untuk menerangkan NU dan Khithahnya kepada orang-orang sederhana di
bawah.

Saya ingin mengatakan bahwa memang ada faktor politik di dalam proses
kelahiran Khithah NU, tapi bukan berarti politiklah yang harus disalahkan
dan oleh karenanya lalu dipahami NU tak lagi menghalalkan–setelah selama ini
menghalalkan–politik. Khitthah NU dalam hal ini–karena Khitthah tak sekedar
bicara hal ini–sekedar mendudukkan politik dalam proporsi sesuai dengan
porsinya. Politik, sama dengan dakwah, pendidikan, ekonomi, dsb., mesti
dilihat sebagai khidmah kemasyarakatan yang harus dilakukan secara
bertanggungjawab bagi kepentingan bangsa dan negara. (Baca Khitthah NU butir
8)

Agaknya, warga NU memang belum siap untuk menerima NU sebagai organisasi
yang baik seperti dituntut Khitthah NU. Setelah perjalanannya sebagai jamaah
yang cukup jauh, tiba-tiba warga NU pangling dengan jatidirinya sendiri.
“Kesuksesan” mereka dalam kiprah politik, membuat mereka seperti kemaruk,
sehingga mempersiapkan diri bagi amal politik sebagai khidmah tak kunjung
terpikirkan. Sementara, kehidupan perpolitikan di negeri ini pun tidak
mengajarkan perilaku politik yang baik, yang mengarah kepada tercapainya
kemaslahatan bersama. Perpolitikan yang hanya mengedepankan kepentingan
sesaat bagi kelompok sendiri-sendiri. Di pihak lain, mereka yang
terus-menerus menyaksikan praktek-praktek politik yang mengabaikan akhlaqul
karimah dan belum pernah merasakan manfaat dari perpolitikan itu, malah
justru sering dirugikannya, serta merta menyambut Khitthah NU dengan
kegirangan orang mendapat dukungan.

Akibatnya, Khitthah NU yang semestinya menjadi landasan bagi perbaikan
menyeluruh untuk kepentingan bersama, hanya dijadikan sekedar alat bagi
membenarkan kiprah masing-masing alias hanya dijadikan senjata untuk
bertikai antar sesama.

Sebenarnya, dengan tamsil di atas itu, saya ingin mengatakan juga bahwa NU
dan Khitthahnya sebenarnya sangat gamblang, mudah dipahami, dan tak ada
masalah.

Khitthah NU hanya mengingatkan bahwa NU itu mempunyai tujuan besar dan
cita-cita luhur yang untuk mencapainya, mengupayakan dengan berbagai
ikhtiar. Bidang garapan dan khidmah NU karenanya bermacam-macam.
Masing-masing dilakukan oleh mereka yang memang seharusnya melakukannya
(ahlinya).

Namun, sebagaimana Islam dan Pancasila, persoalannya selalu lebih kepada
manusianya. Itulah sebabnya, pada waktu menjelang Munas Lampung tahun 1992,
ketika Kyai A. Muchith Muzadi diminta PBNU menulis syarah Khitthah, saya
sempat mempertanyakan, apanya yang perlu disyarahi? Bukankah Khitthah NU
sudah sedemikian jelas bagai matahari siang? Apabila orang tidak bisa
melihat matahari, bukan mataharinya yang kurang jelas. Sekarang disyarahi
dan besok mungkin dikhasyiahi pun, jika kepentingan NU dan umat masih
dinomorsekiankan, insya Allah Khitthah tetap tak kunjung “jelas” bagi mereka
yang bersangkutan.

Sejak pertama dimasyarakatkannya Khitthah NU, telah ratusan kali saya
bertemu warga NU, yang tokoh maupun bukan; belasan kalau tidak puluhan
artikel saya tulis; dan kesimpulan saya tetap seperti itu. Seperti Indonesia
ini, manusianyalah yang perlu ‘direformasi’. Karena itu saya selalu ngotot,
bahwa penataan diri mestilah merupakan prioritas. NU harus segera diupayakan
menjadi jam’iyyah, tidak terus menerus hanya sebagai jamaah.

Khitthah NU ini merupakan landasan dan patokan-patokan dasar yang
perwujudannya dengan izin Allah terutama tergantung kepada semangat pemimpin
dan warga NU. Jam’iyyah Nahdlatul Ulama hanya akan memperoleh dan mencapai
cita-citanya jika pemimpin dan warganya benar-benar meresapi dan mengamalkan
Khittah NU ini. (Khotimah Khitthah Nahdlatul Ulama). Wallahu a‘lam.

*) Tulisan lama yang diturunkan kembali ini, bila Anda warga NU, bisa
bertanya kepada diri sendiri: mengapa tulisan ini terasa masih relevan?

KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

~ by Roni on March 17, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: