PRESTASI GUS DUR Meruntuhkan Mitos Mafia Berkeley

PRESTASI GUS DUR

Meruntuhkan Mitos Mafia Berkeley

Jumat, 22 Januari 2010, 09:06:35 WIB

Laporan: Zul Hidayat Siregar

Jakarta, RMOL. Selama masa Orde Baru, perekonomian Indonesia dan Mafia Berkeley seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Sejak berkuasa sampai “lengser keprabon”, Soeharto mempercayakan sepenuhnya kepada mereka untuk mengarsiteki arah perekonomian Indonesia.
Istilah Mafia Barkeley sendiri ditujukan kepada para ekonom yang merupakan lulusan Universitas California, Barkeley tahun 1960-an. Tokoh sentralnya adalah Widjojo Nitisastro . Widjojo menjabat kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional I pada tahun 1969.
Seiring dengan jatuhnya rezim Orde Baru, sinar Mmafia Barkeley pun mulau meredup. Praktis, pada saat masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Widjojo cs betul-betul tidak dipakai lagi. Tim ekonomi Gus Dur yang dinakhodai Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli dengan tegas tidak akan melibatkan Mafia Barkeley.
Hal ini dibuktikan Rizal dengan tidak mengikutsertakan Widjojo dan teman-teman saat pertemuan negara-negara kreditor Indonesia, di Forum Sidang Consultative Group for Indonesia (CGI) yang digelar di Jepang pada 17-18 Oktober 2000 lalu.
Sebelumnya, hanya Widjojo yang dipercaya bisa “meluluhkan hati” para kreditor untuk memberikan bantuan kepada Indonesia. Karena Widjojo dan tim ekonom Mafia Barkeley lainnya dianggap telah berpengalaman selama puluhan tahun. Ini bahkan menjadi mitos hanya mereka lah yang memiliki hubungan baik dengan negara-negara donor.
Akan tetapi Rizal membuktikan, tanpa keterlibatan Widjojo Indonesia tetap bisa mendapatkan komitmen bantuan atau utang luar negeri baru sebesar US$ 4,8 miliar ditambah hibah US$ 500 juta lebih. Pada saat itu, runtuhlah mitos Mafia Barkeley.
Setidaknya ada dua hal yang membedakan tim yang dimipim Rizal dengan tim ekonom Mafia Barkeley ketika menghadiri Forum Sidang CGI di Jepang.
Pertama, tidak seperti pendahulunya yang biasanya dijemput dengan mobil super mewah dari Bandara International Narita Jepang dan diantar ke hotel berbintang lima, Rizal memilih menggunkaan jasa tansportasi subway dari bandara ke hotel New Otami Tokyo, tempat delegasi Indonesia menginap.
“Kita ini kan negara miskin ngapain sok jagoan bermewah-mewah,” kata Rizal meyakinan timnya.
Kedua, pada Sidang Forum CGI tersebut, Rizal menyertakan aktivis International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Binny Boechori yang selama ini dikenal kritis terhadap utang luar negeri.
Artinya, Rizal ingin agar apa yang dilakukan dan bagaimana hasil dari kunjungan tersebut terbuka dan diketahui oleh masyarakat Indonesia. [zul]   Sumber: Rakyat Merdeka

~ by Roni on January 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: