CATATAN AS HIKAM: Pak Polisi dan Gus Dur yang Bisa Salah Paham

Rabu, 06 Januari 2010, 23:39:33 WIB

Jakarta, RMOL. Siapa bilang Gus Dur gak bisa salah paham? Namanya manusia biasa, pasti satu saat hal itu terjadi. Bedanya, kalau umumnya orang salah paham terus marah atau jengkel dan menjengkelkan, kalau GD malah jadi lucu.

Ini informasi A-1 karena yang cerita ya GD sendiri sama saya (sambil dipijet kakinya di Gedung PB NU yang waktu itu masih reyot):

Pada masa akhir zamannya Pak Harto, para cendekiawan kritis banyak yang dilarang bicara, termasuk dan terutama adalah GD (yang waktu itu sudah jadi ikon gerakan pro-demokrasi). Nah, suatu hari beliau diundang ke Jember oleh anak-anak GMNI yang disponsori Mas Bondan Gunawan. Sudah barang pasti para aparat keamanan di-deploy untuk membuat acara gagal, atau, minimum, kurang lancar. Toh acara tetap jalan dan ceramahnya GD didengar banyak aktivis GMNI dan lain-lain. Begitu selesai, GD diminta panitia cepat-cepat meninggalkan arena karena, konon, Polisi akan masuk dan membubarkan acara. GD dan teman-teman se mobil langsung aja kabur dari lokasi menuju Surabaya.

Masih di dalam kota, mobil GD sudah dibuntuti dua motor gedhe putih milik Polri, walaupun tidak membunyikan nguing-2 (sirine). GD dilapori sopirnya dan beliau minta supaya jalan saja, kalau perlu ngebut! Maka ngebutlah si sopir dan Polisi yang ngebuntutin juga ngebut di belakang. Sampai di luar kota, dua motor Polisi tadi nyalip dan setelah rada jauh, behenti di tengah jalan. Sontak sopir GD juga mengerem mobil, karena khawatir terjadi kecelakaan kalau nabrak. GD marah besar dan buka kaca jendela menunggu kedua “oknum” Polri mendatangi beliau.

“Ada apa?!” GD bertanya dengan suara agak tinggi.

“Assalamu’alaikum Kyai…”kata salah satu dari “oknum” Polisi

“Ya! Ini ada apa, kan saya sudah pergi. Sana pergi kalian…”

GD mencoba mencegah mereka makin dekat

“Begini Kyai…” kata si oknum sampai di kaca jendela (sopir dan dua penumpang di belakang sudah khawatir banget…)

“Begini Kyai, mohon maaf, saya tadi belum sempat salaman sama njenengan, jadi terpaksa saya mengikuti Kyai. Tolong Kyai saya ingin salaman” kata si “oknum” dan keduanya lalu salaman dan cium tangan GD…

“Matur nuwun Kyai, selamat jalan ya..”

Dua polisi tadi cengengesan puas karena “sukses” bisa salaman dg GD!

Tentu saja GD langsung ketawa ngakak begitu mobil jalan lagi, ujarnya (pada saya):

“Ngono kuwi lo, Kang wong NU. Sudah repot-repot disuruh menjaga supaya ceramah saya tidak sukses, eee… ujung-ujungnya pengen salaman..!”

Jadi GD pun bisa salah paham dan mengakhiri dengan ketawa. Memang waktu itu aparat keamanan (intel, tentara, polisi, hansip, satpam dll) suka dikerahkan utk menghalangi beliau. Tapi dasarnya orang NU, kalau tugas sudah selesai, ya cium tangan GD juga. Tugas terlaksana, kepuasan batin tercapai.

Gitu aja kok repot!!

~ by Roni on January 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: