Pidato Lengkap dan Maklumat Presiden Abdurrahman Wahid

Jakarta, 23 Juli 2001 02:32 Tepat pukul 01:10 WIB Senin dinihari,

Presiden Abdurrahman Wahid, di Istana Merdeka Jakarta, memberlakukan Dekrit yang berisi pembekuan DPR dan MPR dan Partai Golkar serta mempercepat Pemilu. Berikut adalah Pidato dan Maklumat Presiden selengkapnya :

“Pertama-tama saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada anda semua karena telah membuat anda menunggu begitu lama karena prosesnya tidak gampang. Selama beberapa hari ini saya telah dibanjiri, baik oleh LSM, beberapa Parpol, ormas-ormas dan juga kalangan agamawan, dan beberapa pihak lainnya yang mewakili rakyat, meminta agar saya memberlakukan dekrit. Hal ini mencapai puncaknya, kemarin (Minggu 22/7), beberapa parpol utama berkumpul di Jl Kebagusan, rumah Ibu Megawati Soekarnoputri (Wapres). Saat keluar dari sana, Mas Amien Rais (Ketua MPR RI) mengatakan bahwa dalam beberapa hari ini akan ada pemimpin nasional yang baru. Dari apa yang kita diketahui, mengenai pertemuan itu jelas bahwa mereka tidak dapat mengendalikan keinginan orang-orang yang ini dan memaksa saya turun dari jabatan kepresidenan. Sebetulnya masalah ini tidak ada masalah apa-apa. Tapi masalahnya adalah bahwa kalau saya turun atau diturunkan maka beberapa propinsi jelas akan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal sumpah saya adalah memelihara keutuhan teritorial sebagai bagian dari memelihara integritas bangsa ini. Dengan demikian, jika dibiarkan akan ada dua buah pemerintahan kembar di negeri kita. Sesuatu yang tidak boleh terjadi karena mengakibatkan kekacauan yang luar biasa besarnya dalam kehidupan kita berbangsa. Karena itu dengan berat hati selaku Presiden Indonesia maupun sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Indonesia, saya umumkan pemberlakuan Dekrit. Dekrit ini akan dibacakan Yahya Staquf (juru bicara Presiden) mengenai bunyi redaksionalnya. Sedangkan kita mulai bekerja besok pagi. Dalam hal ini, saya minta agar TNI dan Polri mengamankan pelaksanaan pengumuman ini dan memberlakukan dekrit. Salah satu diktum ini adalah pembekuan DPR dan MPR karena itu TNI dan Polri bekewajiban untuk menghalangi adanya Sidang Istimewa (SI) yang akan digelar besok pagi karena tidak boleh ada pemerintahan tandingan di sebuah negara. Dan terpenting adalah perlu saya nyatakan bahwa terjadi sebuah kejadian menarik bahwa hampir seluruhnya, baik itu dari masyarakat sendiri, kalangan pemerintah, TNI dan Polri, menyambut dengan baik dekrit ini. Maka saya minta saudara Yahya Staquf untuk membacakan diktum-diktum tersebut. ”

Yahya Staquf:

“Maklumat Presiden Republik Indonesia.

Setelah melihat dan memperhatikan dengan seksama perkembangan politik yang menuju pada kebuntuan politik akibat krisis konstitusional yang berlarut-larut yang telah memperparah krisis ekonomi, dan menghalangi usaha penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi, yang disebabkan pertikaian kepentingan politik kekuasaan yang tidak mengindahkan lagi kaidah-kaidah perundang-undangan. Apabila hal ini tidak dicegah akan segera menghancurkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka dengan keyakinan dan tanggung jawab untuk menyelamatkan negara dan bangsa, serta berdasarkan kehendak sebagian terbesar masyarakat Indonesia, kami selaku Kepala Negara Republik Indonesia, terpaksa mengambil langkah-langkah luar biasa dengan memaklumkan:

1. Membekukan Majelis Permusyawatan Rakyat RI dan Dewan Perwakilan Rakyat RI.

2. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan mengambil tindakan serta menyusun badan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pemilihan umum dalam waktu satu tahun.

3. Menyelamatkan gerakan reformasi total dari hambatan unsur-unsur Orde Baru dengan membekukan Partai Golkar sampai menunggu keputusan Makamah Agung.

Untuk itu kami memerintahkan seluruh jajaran TNI dan Polri untuk mengamankan langkah-langkah penyelamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang serta menjalankan kehidupan sosial dan ekonomi seperti biasa. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi bangsa dan negara Indonesia.

Jakarta 23 Juli 2001,

Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI,

KH Abdurrahman Wahid. “

~ by Roni on January 9, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: